Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk cara mahasiswa belajar, berkomunikasi, dan memperoleh informasi. Di tengah pesatnya transformasi tersebut, media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi telah beralih menjadi bagian dari gaya hidup yang sulit dipisahkan dari aktivitas sehari-hari. Salah satu platform yang paling dominan digunakan oleh generasi muda saat ini adalah TikTok. Berkat algoritma yang mampu menyesuaikan konten dengan minat pengguna, aplikasi ini berhasil mempertahankan perhatian penggunanya dalam waktu yang lama melalui aliran video pendek yang terus diperbarui.
Di satu sisi, TikTok menghadirkan berbagai informasi secara cepat dan mudah diakses. Namun, di sisi lain, intensitas penggunaan yang tinggi mulai memunculkan persoalan baru dalam dunia pendidikan. Fenomena mahasiswa yang membuka TikTok saat perkuliahan berlangsung semakin mudah ditemui. Aktivitas yang semula dianggap sebagai hiburan singkat perlahan berubah menjadi kebiasaan yang mengganggu fokus belajar. Akibatnya, batas antara waktu belajar dan waktu mencari hiburan menjadi semakin kabur.
Situasi ini perlu mendapat perhatian karena ruang kelas merupakan tempat utama berlangsungnya proses transfer pengetahuan. Ketika perhatian mahasiswa lebih banyak tersita oleh layar ponsel daripada penjelasan dosen, kualitas pembelajaran tentu ikut terdampak. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi kemampuan memahami materi saat itu juga, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas hasil belajar dalam jangka panjang.
Fenomena penggunaan TikTok selama perkuliahan menunjukkan bahwa tantangan belajar mahasiswa saat ini tidak lagi hanya berasal dari tingkat kesulitan materi, melainkan juga dari gangguan digital yang terus hadir di genggaman mereka. Algoritma TikTok dirancang untuk mempelajari perilaku pengguna secara berkelanjutan sehingga setiap video yang muncul di halaman utama terasa semakin relevan dengan minat pribadi. Mekanisme inilah yang membuat pengguna terdorong untuk terus melakukan scrolling tanpa menyadari berapa lama waktu telah berlalu.
Banyak mahasiswa membuka aplikasi tersebut hanya untuk beberapa menit ketika merasa bosan selama perkuliahan. Namun, durasi singkat itu sering kali berkembang menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan karena selalu tersedia konten baru yang menarik perhatian. Kondisi ini menyebabkan mahasiswa kehilangan kesempatan untuk mengikuti penjelasan dosen secara utuh. Penjelasan yang bersifat konseptual atau membutuhkan konsentrasi tinggi menjadi sulit dipahami karena perhatian terus berpindah antara materi kuliah dan video yang ditonton.
Dalam praktiknya, mahasiswa sering beranggapan bahwa mereka tetap dapat menyimak materi kuliah sambil membuka media sosial. Anggapan tersebut melahirkan keyakinan bahwa multitasking merupakan kemampuan yang dapat meningkatkan efisiensi belajar. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa otak manusia tidak benar-benar mampu memproses dua aktivitas kognitif kompleks secara bersamaan dengan kualitas yang sama.
Yang sebenarnya terjadi adalah perpindahan perhatian secara sangat cepat dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Ketika mahasiswa mendengarkan penjelasan dosen sambil menonton video TikTok, otak terus melakukan pergantian fokus. Proses ini membutuhkan energi mental yang besar sehingga kapasitas berpikir menjadi lebih cepat lelah. Dampaknya tidak hanya berupa berkurangnya konsentrasi, tetapi juga menurunnya kemampuan memahami konsep yang sedang dipelajari.
Informasi yang diterima secara terputus-putus akan lebih sulit tersimpan dalam memori jangka panjang. Mahasiswa mungkin masih dapat mengingat sebagian materi sesaat setelah perkuliahan selesai, tetapi pemahaman tersebut cenderung tidak bertahan lama. Situasi inilah yang kemudian menjelaskan mengapa sebagian mahasiswa mengalami kesulitan ketika harus mengerjakan tugas, mengikuti diskusi, maupun menghadapi ujian, meskipun mereka merasa telah mengikuti seluruh proses pembelajaran.
Gangguan konsentrasi akibat penggunaan TikTok juga berkaitan erat dengan kondisi psikologis yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FoMO). Istilah ini menggambarkan rasa khawatir ketika seseorang merasa tertinggal informasi, tren, atau aktivitas yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Bagi banyak mahasiswa, mengikuti perkembangan tren digital telah menjadi bagian dari kehidupan sosial mereka. Tidak sedikit yang merasa harus selalu mengetahui video viral terbaru agar tetap dianggap relevan dalam lingkungan pergaulan.
Perasaan tersebut mendorong keinginan untuk terus memeriksa notifikasi atau membuka aplikasi TikTok, bahkan ketika sedang mengikuti kuliah. Kebiasaan ini sering muncul secara otomatis tanpa disadari. Akibatnya, perhatian terhadap materi kuliah semakin berkurang karena pikiran terus terdorong untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia digital.
Berbagai penelitian juga menunjukkan adanya hubungan positif antara tingkat FoMO dengan kecenderungan mengalami adiksi media sosial. Semakin tinggi rasa takut tertinggal informasi, semakin besar pula dorongan untuk terus membuka media sosial. Dalam konteks akademik, kondisi tersebut menjadi tantangan serius karena dapat mengganggu disiplin belajar serta mengurangi kemampuan mahasiswa dalam mengelola waktu secara efektif.
Dampak lain yang tidak kalah penting adalah meningkatnya perilaku prokrastinasi akademik. Video berdurasi singkat di TikTok memberikan kepuasan instan yang membuat pengguna terus ingin menonton konten berikutnya. Tanpa disadari, waktu yang semestinya digunakan untuk membaca referensi, menyusun laporan, atau mengerjakan tugas habis hanya untuk melakukan scrolling.
Akibatnya, banyak mahasiswa baru mulai mengerjakan tugas ketika batas waktu pengumpulan sudah sangat dekat. Kebiasaan menunda pekerjaan akhirnya menjadi pola yang terus berulang. Selain menurunkan kualitas hasil tugas, kondisi tersebut juga meningkatkan tekanan psikologis karena mahasiswa harus menyelesaikan berbagai kewajiban akademik dalam waktu yang terbatas.
Lebih jauh lagi, kebiasaan mencari hiburan instan secara terus-menerus dapat mengurangi kemampuan berpikir mendalam. Padahal, dunia akademik menuntut mahasiswa mampu menganalisis persoalan secara kritis, menghubungkan berbagai konsep, serta menyusun argumentasi berdasarkan data yang kuat. Ketika perhatian lebih sering diarahkan pada konten singkat yang serba cepat, kemampuan untuk mempertahankan fokus dalam membaca atau mengkaji materi yang kompleks dapat ikut menurun.
Meski demikian, menempatkan TikTok semata-mata sebagai penyebab menurunnya kualitas belajar juga kurang tepat. Platform ini pada dasarnya merupakan teknologi yang bersifat netral. Dampak yang muncul sangat bergantung pada cara penggunanya memanfaatkan teknologi tersebut.
Saat ini semakin banyak kreator yang menyajikan konten edukatif mengenai sains, bahasa asing, ekonomi, kesehatan, hingga berbagai materi perkuliahan. Video pendek yang dikemas secara kreatif mampu membantu mahasiswa memahami konsep yang sulit melalui ilustrasi visual yang menarik. Bahkan, sebagian dosen mulai memanfaatkan media sosial sebagai sarana penyampaian materi tambahan agar lebih mudah diterima oleh mahasiswa.
Potensi tersebut menunjukkan bahwa TikTok juga dapat menjadi media pembelajaran apabila digunakan secara bijaksana. Kuncinya terletak pada kemampuan mahasiswa dalam melakukan seleksi terhadap konten yang dikonsumsi. Literasi digital menjadi keterampilan yang sangat penting agar mahasiswa mampu membedakan informasi yang bermanfaat dengan konten yang hanya menghabiskan waktu tanpa memberikan nilai tambah bagi perkembangan intelektual.
Kemampuan berpikir kritis juga diperlukan untuk mengevaluasi validitas informasi yang beredar di media sosial. Tidak semua konten edukatif memiliki dasar ilmiah yang kuat. Oleh karena itu, mahasiswa tetap perlu menjadikan buku, jurnal ilmiah, serta sumber akademik yang kredibel sebagai rujukan utama dalam proses belajar.
Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan terbesar mahasiswa bukanlah menghindari teknologi, melainkan mengendalikan cara menggunakannya. Kesadaran untuk membatasi penggunaan ponsel selama perkuliahan menjadi langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar terhadap kualitas pembelajaran. Ketika perhatian sepenuhnya diarahkan kepada dosen dan materi yang sedang dibahas, peluang memahami konsep secara mendalam akan jauh lebih besar.
Pengelolaan waktu yang baik, disiplin dalam belajar, serta kemampuan mengendalikan distraksi digital merupakan keterampilan yang semakin penting di era modern. Mahasiswa tidak dapat menghindari perkembangan teknologi, tetapi mereka dapat menentukan bagaimana teknologi digunakan untuk mendukung, bukan menghambat, proses belajar.
Keberhasilan akademik pada era digital tidak lagi hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual. Kemampuan mengendalikan diri, membangun literasi digital yang baik, dan memanfaatkan teknologi secara proporsional menjadi faktor yang sama pentingnya. Semakin bijak mahasiswa menggunakan media sosial, semakin besar pula peluang mereka memperoleh manfaat teknologi tanpa harus mengorbankan konsentrasi, produktivitas, maupun kualitas pembelajaran di ruang kelas.
Sumber:
Berbagai penelitian mengenai multitasking digital, FoMO, prokrastinasi akademik, serta dampak penggunaan media sosial terhadap konsentrasi belajar sebagaimana telah dirujuk dalam naskah penulis.
Penulis : Ayu / Ilmu Komunikasi UMM
Editor : Intan Permata









