Magelang, Sorotnesia.com – Semangat kemitraan dalam bingkai Sustainable Development Goals (SDGs) 17 tentang Partnerships for the Goals terlihat nyata di Desa Seloprojo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Melalui kolaborasi antara mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) dan masyarakat desa, limbah sayur rumah tangga berhasil diolah menjadi pupuk organik cair (POC) yang ramah lingkungan dan bernilai guna bagi pertanian.
Program pemberdayaan tersebut diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi dan praktik langsung pembuatan pupuk organik cair berbahan limbah sayuran. Bahan yang digunakan antara lain kol, sawi putih, bayam, dan mentimun jenis sayuran yang umum ditemukan dalam aktivitas dapur rumah tangga warga.
Limbah sayuran yang sebelumnya hanya dibuang atau dibiarkan membusuk kini dimanfaatkan melalui proses fermentasi menggunakan ember komposter dan bahan tambahan sederhana. Hasilnya berupa cairan pupuk organik yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman pekarangan maupun lahan pertanian.

Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pelatihan teknis pembuatan pupuk, tetapi juga memberikan edukasi lingkungan kepada masyarakat. Para peserta dibekali pemahaman mengenai dampak limbah organik yang tidak terkelola dengan baik, manfaat pupuk organik cair bagi kesuburan tanaman, serta cara mengenali proses fermentasi yang berhasil dan aman digunakan.
Program tersebut dilaksanakan selama masa KKN mahasiswa di Desa Seloprojo. Wilayah yang berada di dataran tinggi ini dikenal sebagai kawasan pertanian, dengan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani maupun pelaku usaha rumah tangga yang berkaitan dengan sektor agrikultur.
Kondisi geografis tersebut membuat kebutuhan pupuk menjadi bagian penting dalam aktivitas sehari-hari masyarakat. Oleh karena itu, pelatihan pembuatan pupuk organik cair dinilai relevan untuk memberikan alternatif pupuk yang lebih hemat dan berkelanjutan.
Selama ini, limbah sayur rumah tangga di Desa Seloprojo umumnya dibuang bersama sampah lainnya atau dibiarkan menumpuk di sekitar rumah. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan bau tidak sedap, mengundang serangga, bahkan mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.
Di sisi lain, sebagian besar petani masih bergantung pada pupuk kimia untuk menunjang produktivitas pertanian. Melalui pengolahan limbah sayur menjadi pupuk organik cair, masyarakat diperkenalkan pada alternatif pupuk yang lebih ramah lingkungan sekaligus dapat mengurangi biaya produksi.
Inisiatif ini sekaligus membantu mengurangi volume sampah organik rumah tangga. Dengan demikian, satu kegiatan mampu menjawab dua persoalan sekaligus, yakni pengelolaan sampah dan penguatan praktik pertanian berkelanjutan di tingkat desa.
Secara lebih luas, kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat tersebut mencerminkan implementasi nyata SDGs 17, yang menekankan pentingnya kemitraan lintas sektor untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat desa dinilai mampu menghadirkan solusi praktis yang relevan dengan kebutuhan lokal.

Proses pembuatan pupuk organik cair dilakukan dengan langkah yang relatif sederhana. Limbah sayuran terlebih dahulu dicacah agar mudah terurai, kemudian dimasukkan ke dalam ember komposter. Setelah itu, bahan dicampur dengan larutan fermentasi dan air sesuai takaran yang dianjurkan.
Campuran tersebut diaduk hingga merata dan disimpan dalam wadah tertutup yang tetap memiliki ruang udara. Dalam beberapa waktu, proses fermentasi akan menghasilkan cairan yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk setelah melalui tahap pengenceran.
Selama sesi praktik berlangsung, antusiasme warga terlihat cukup tinggi. Sejumlah peserta, terutama ibu rumah tangga, mengaku baru mengetahui bahwa sisa sayuran dapur dapat diolah menjadi pupuk cair yang bermanfaat bagi tanaman.
Mereka menilai metode tersebut mudah dilakukan, tidak memerlukan biaya besar, dan dapat diterapkan langsung di rumah dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar.
Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan limbah organik secara produktif. Selain berpotensi mengurangi sampah rumah tangga, pupuk organik cair yang dihasilkan juga dapat membantu menyuburkan tanaman pekarangan tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli pupuk kimia.
Program ini sekaligus menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan di Desa Seloprojo. Limbah tidak lagi dipandang sebagai sisa yang tidak berguna, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekologis dan manfaat ekonomi.
Kolaborasi sederhana antara mahasiswa dan masyarakat tersebut menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil di tingkat desa. Ketika pengetahuan akademik bertemu dengan pengalaman masyarakat, upaya menuju pembangunan berkelanjutan bukan sekadar konsep, melainkan praktik nyata yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari warga.
Penulis : KKN UNS 81 Seloprojo
Editor : Anisa Putri









