Kolaborasi Mahasiswa UNS dan Warga Seloprojo Olah Limbah Sayur Jadi Pupuk Organik Cair, Dorong Pertanian Berkelanjutan

- Redaksi

Jumat, 6 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswa KKN UNS berfoto bersama ibu-ibu peserta pelatihan pengolahan limbah sayur. (Foto: KKN UNS 81 Seloprojo)

Mahasiswa KKN UNS berfoto bersama ibu-ibu peserta pelatihan pengolahan limbah sayur. (Foto: KKN UNS 81 Seloprojo)

Magelang, Sorotnesia.com – Semangat kemitraan dalam bingkai Sustainable Development Goals (SDGs) 17 tentang Partnerships for the Goals terlihat nyata di Desa Seloprojo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Melalui kolaborasi antara mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) dan masyarakat desa, limbah sayur rumah tangga berhasil diolah menjadi pupuk organik cair (POC) yang ramah lingkungan dan bernilai guna bagi pertanian.

Program pemberdayaan tersebut diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi dan praktik langsung pembuatan pupuk organik cair berbahan limbah sayuran. Bahan yang digunakan antara lain kol, sawi putih, bayam, dan mentimun jenis sayuran yang umum ditemukan dalam aktivitas dapur rumah tangga warga.

Limbah sayuran yang sebelumnya hanya dibuang atau dibiarkan membusuk kini dimanfaatkan melalui proses fermentasi menggunakan ember komposter dan bahan tambahan sederhana. Hasilnya berupa cairan pupuk organik yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman pekarangan maupun lahan pertanian.

Pemaparan materi pengolahan limbah sayur oleh mahasiswa KKN UNS. (Foto: KKN UNS 81 Seloprojo)
Pemaparan materi pengolahan limbah sayur oleh mahasiswa KKN UNS. (Foto: KKN UNS 81 Seloprojo)

Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pelatihan teknis pembuatan pupuk, tetapi juga memberikan edukasi lingkungan kepada masyarakat. Para peserta dibekali pemahaman mengenai dampak limbah organik yang tidak terkelola dengan baik, manfaat pupuk organik cair bagi kesuburan tanaman, serta cara mengenali proses fermentasi yang berhasil dan aman digunakan.

Program tersebut dilaksanakan selama masa KKN mahasiswa di Desa Seloprojo. Wilayah yang berada di dataran tinggi ini dikenal sebagai kawasan pertanian, dengan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani maupun pelaku usaha rumah tangga yang berkaitan dengan sektor agrikultur.

Baca Juga :  Lomba Soto Nusantara di Desa Binuang, Warga dan Mahasiswa KKN UNRI Gagas Kemandirian Ekonomi

Kondisi geografis tersebut membuat kebutuhan pupuk menjadi bagian penting dalam aktivitas sehari-hari masyarakat. Oleh karena itu, pelatihan pembuatan pupuk organik cair dinilai relevan untuk memberikan alternatif pupuk yang lebih hemat dan berkelanjutan.

Selama ini, limbah sayur rumah tangga di Desa Seloprojo umumnya dibuang bersama sampah lainnya atau dibiarkan menumpuk di sekitar rumah. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan bau tidak sedap, mengundang serangga, bahkan mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.

Di sisi lain, sebagian besar petani masih bergantung pada pupuk kimia untuk menunjang produktivitas pertanian. Melalui pengolahan limbah sayur menjadi pupuk organik cair, masyarakat diperkenalkan pada alternatif pupuk yang lebih ramah lingkungan sekaligus dapat mengurangi biaya produksi.

Inisiatif ini sekaligus membantu mengurangi volume sampah organik rumah tangga. Dengan demikian, satu kegiatan mampu menjawab dua persoalan sekaligus, yakni pengelolaan sampah dan penguatan praktik pertanian berkelanjutan di tingkat desa.

Secara lebih luas, kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat tersebut mencerminkan implementasi nyata SDGs 17, yang menekankan pentingnya kemitraan lintas sektor untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat desa dinilai mampu menghadirkan solusi praktis yang relevan dengan kebutuhan lokal.

Peserta pelatihan mempraktikkan pembuatan pupuk organik cair didampingi mahasiswa KKN UNS. (Foto: KKN UNS 81 Seloprojo)
Peserta pelatihan mempraktikkan pembuatan pupuk organik cair didampingi mahasiswa KKN UNS. (Foto: KKN UNS 81 Seloprojo)

Proses pembuatan pupuk organik cair dilakukan dengan langkah yang relatif sederhana. Limbah sayuran terlebih dahulu dicacah agar mudah terurai, kemudian dimasukkan ke dalam ember komposter. Setelah itu, bahan dicampur dengan larutan fermentasi dan air sesuai takaran yang dianjurkan.

Baca Juga :  Digitalisasi Dusun Dodogan: KKN-PPM XLVI Kelompok 20 UMBY Dorong Transformasi Teknologi

Campuran tersebut diaduk hingga merata dan disimpan dalam wadah tertutup yang tetap memiliki ruang udara. Dalam beberapa waktu, proses fermentasi akan menghasilkan cairan yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk setelah melalui tahap pengenceran.

Selama sesi praktik berlangsung, antusiasme warga terlihat cukup tinggi. Sejumlah peserta, terutama ibu rumah tangga, mengaku baru mengetahui bahwa sisa sayuran dapur dapat diolah menjadi pupuk cair yang bermanfaat bagi tanaman.

Mereka menilai metode tersebut mudah dilakukan, tidak memerlukan biaya besar, dan dapat diterapkan langsung di rumah dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar.

Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan limbah organik secara produktif. Selain berpotensi mengurangi sampah rumah tangga, pupuk organik cair yang dihasilkan juga dapat membantu menyuburkan tanaman pekarangan tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli pupuk kimia.

Program ini sekaligus menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan di Desa Seloprojo. Limbah tidak lagi dipandang sebagai sisa yang tidak berguna, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekologis dan manfaat ekonomi.

Kolaborasi sederhana antara mahasiswa dan masyarakat tersebut menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil di tingkat desa. Ketika pengetahuan akademik bertemu dengan pengalaman masyarakat, upaya menuju pembangunan berkelanjutan bukan sekadar konsep, melainkan praktik nyata yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari warga.

Penulis : KKN UNS 81 Seloprojo

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahasiswa UNS Teliti Empat Metode Ekstraksi Antosianin Buah Murbei untuk Dukung Pengembangan Bahan Bioaktif Bernilai Tinggi
Dari Laboratorium ke Ruang Kelas, Tim Teman Riset 1790 UNS Kenalkan Kimia Hijau lewat Riset Senyawa Antibakteri di SMA Al-Islam Surakarta
Kajian Tim JARPAK UNS Ungkap Posisi Strategis Desa Sumbung sebagai Penopang Ekonomi Wilayah Cepogo
Identitas dan Legalitas Usaha Jadi Kunci Penguatan UMKM Desa Sumbung, Warga Didorong Naik Kelas
Limbah Kulit Lamtoro Jadi Penangkap Antibiotik di Air, Mahasiswa UNS Edukasi Siswa SMAN 1 Banyuduono Lewat Riset Green Chemistry
Sorotan Kampus Berbasis Industri di Jakarta untuk Calon Mahasiswa
Limbah Serbuk Gergaji di Klaten Disulap Jadi Briket Arang, Mahasiswa UNS Dorong Peluang Usaha Berbasis Energi Terbarukan
Limbah Sekam Padi di Boyolali Disulap Jadi Media Tanam Jamur, Buka Peluang Usaha Baru bagi Warga Desa

Berita Terkait

Minggu, 12 Juli 2026 - 11:00 WIB

Mahasiswa UNS Teliti Empat Metode Ekstraksi Antosianin Buah Murbei untuk Dukung Pengembangan Bahan Bioaktif Bernilai Tinggi

Senin, 6 Juli 2026 - 13:02 WIB

Dari Laboratorium ke Ruang Kelas, Tim Teman Riset 1790 UNS Kenalkan Kimia Hijau lewat Riset Senyawa Antibakteri di SMA Al-Islam Surakarta

Sabtu, 4 Juli 2026 - 12:29 WIB

Kajian Tim JARPAK UNS Ungkap Posisi Strategis Desa Sumbung sebagai Penopang Ekonomi Wilayah Cepogo

Sabtu, 4 Juli 2026 - 11:59 WIB

Identitas dan Legalitas Usaha Jadi Kunci Penguatan UMKM Desa Sumbung, Warga Didorong Naik Kelas

Jumat, 3 Juli 2026 - 12:38 WIB

Limbah Kulit Lamtoro Jadi Penangkap Antibiotik di Air, Mahasiswa UNS Edukasi Siswa SMAN 1 Banyuduono Lewat Riset Green Chemistry

Berita Terbaru