Magelang, Sorotnesia.com – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) kembali menunjukkan perannya sebagai jembatan antara dunia akademik dan kebutuhan masyarakat. Melalui kegiatan edukasi lingkungan, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) menghadirkan pembelajaran interaktif mengenai bahaya kebakaran lahan kepada siswa sekolah dasar di Desa Seloprojo.
Kegiatan bertajuk “Edukasi Bahaya Kebakaran Lahan dan Keterbukaan Lahan bagi Anak Sekolah Dasar melalui Kemitraan Sekolah dan Masyarakat untuk Perlindungan Lingkungan” ini dilaksanakan pada Senin, 19 Januari 2026 di MI Ma’arif Pernolo.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan literasi lingkungan bagi anak-anak sejak usia dini, sekaligus mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas. Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya dipahami sebagai peningkatan kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kesadaran, dan tanggung jawab sosial terhadap lingkungan.
Tantangan Lingkungan di Wilayah Pedesaan
Kebakaran lahan dan keterbukaan lahan yang tidak terkendali masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah pedesaan, termasuk di Desa Seloprojo. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap dampak pembakaran lahan maupun sampah, serta minimnya edukasi mengenai bahaya api sejak usia dini, dinilai meningkatkan potensi terjadinya kebakaran.
Berdasarkan hasil observasi awal mahasiswa KKN, sebagian siswa sekolah dasar di wilayah tersebut belum memahami konsep dasar kebakaran hutan dan lahan. Beberapa di antaranya bahkan telah terpapar perilaku berisiko, seperti bermain korek api, membakar barang tanpa pengawasan, hingga mencoba merokok.
Dalam kondisi lingkungan yang didominasi lahan terbuka dan vegetasi kering, perilaku tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran yang lebih luas.
Secara ilmiah, kebakaran terjadi melalui interaksi tiga unsur utama yang dikenal sebagai segitiga api, yaitu sumber panas, bahan bakar, dan oksigen. Tanpa pemahaman yang memadai mengenai mekanisme ini, risiko kebakaran dapat meningkat, terutama di kawasan dengan kondisi alam yang rentan.
Edukasi Interaktif bagi Siswa
Untuk menjawab tantangan tersebut, mahasiswa KKN merancang kegiatan edukasi dengan pendekatan interaktif dan mudah dipahami oleh anak-anak.

Materi yang disampaikan meliputi penyebab kebakaran lahan, dampak pembakaran terhadap tanah dan kualitas udara, serta risiko yang muncul akibat keterbukaan lahan, seperti erosi dan longsor.
Selain itu, siswa juga diperkenalkan pada pentingnya vegetasi dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Mahasiswa menjelaskan bahwa akar pohon memiliki peran penting dalam menyerap air, mengikat tanah, serta mencegah kerusakan lingkungan.
Agar lebih mudah dipahami, kegiatan tidak hanya dilakukan melalui pemaparan materi di kelas. Para siswa juga diajak berdiskusi dan menjawab pertanyaan terkait kebiasaan yang berpotensi memicu kebakaran.
Pendekatan ini bertujuan membangun kesadaran kritis sekaligus menumbuhkan sikap peduli terhadap lingkungan di kalangan anak-anak.
Praktik Penanaman Pohon
Sebagai bagian dari pembelajaran aplikatif, kegiatan dilanjutkan dengan praktik penanaman pohon di sekitar area sekolah. Kegiatan ini menjadi sarana bagi siswa untuk memahami secara langsung pentingnya konservasi tanah dan air.
Penanaman pohon diharapkan dapat meningkatkan daya resap air ke dalam tanah, mengurangi limpasan permukaan atau run off, serta membantu meminimalkan risiko longsor pada wilayah dengan kondisi tanah yang labil.
Melalui praktik ini, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga pengalaman nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Peningkatan Pemahaman Siswa
Setelah sesi edukasi selesai, mahasiswa kembali mengajukan sejumlah pertanyaan kepada siswa untuk mengukur tingkat pemahaman mereka.
Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang cukup signifikan. Sebagian besar siswa mampu menjelaskan kembali konsep segitiga api, dampak pembakaran lahan, serta langkah-langkah sederhana untuk mencegah kebakaran.
Antusiasme siswa juga terlihat dari keaktifan mereka saat mengikuti diskusi dan praktik penanaman pohon. Anak-anak yang sebelumnya belum memahami risiko kebakaran kini mulai menunjukkan kesadaran terhadap bahaya penggunaan api secara sembarangan.
Perubahan sikap ini menjadi indikator awal bahwa pendekatan pendidikan lingkungan dapat memberikan dampak positif jika diberikan sejak usia dini.
Kontribusi terhadap SDGs
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap anak-anak Desa Seloprojo dapat menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Dengan bekal literasi lingkungan yang lebih baik, generasi muda diharapkan mampu mendorong perilaku yang lebih bijaksana dalam pengelolaan lahan serta penggunaan api.
Program ini sekaligus menjadi contoh bagaimana kegiatan pengabdian mahasiswa dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas, khususnya melalui penguatan pendidikan berbasis lingkungan.
Lebih dari sekadar kegiatan edukasi, program ini menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan sejak dini merupakan investasi jangka panjang untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, aman, dan ramah lingkungan.
Penulis : Mahasiswa KKN 81 UNS
Editor : Intan Permata









