Makasar, Sorotnesia.com – Semangat Waisak 2570/2026 menjadi momentum bagi umat Buddha di Sulawesi Selatan untuk meneguhkan nilai kemanusiaan melalui aksi sosial donor darah. Kegiatan yang digelar oleh PERMABUDHI Sulawesi Selatan itu berlangsung di Vihara Sasanadipa, Makassar, Minggu (24/5/2026), dalam rangkaian Bulan Bakti PERMABUDHI dan Vesakha Sananda 2570/2026.
Sejak pagi, masyarakat dari berbagai kalangan memadati lokasi kegiatan. Tidak hanya umat Buddha, aksi donor darah juga diikuti masyarakat lintas agama dan komunitas. Mereka datang dengan tujuan yang sama, yakni membantu sesama melalui donor darah yang dibutuhkan bagi pelayanan kesehatan.
Kegiatan dimulai pukul 09.30 WITA dan berlangsung hingga siang hari. Antusiasme peserta terlihat dari ramainya area registrasi dan ruang donor darah. Panitia bersama relawan tampak sigap mengatur jalannya kegiatan agar tetap tertib dan lancar.
Aksi sosial tersebut menjadi bagian dari implementasi nilai cinta kasih dan welas asih yang diajarkan dalam ajaran Buddha. Selain itu, kegiatan ini juga mencerminkan semangat gotong royong dan solidaritas sosial di tengah masyarakat Sulawesi Selatan.
Sebagai bentuk apresiasi, panitia memberikan bantuan beras lima kilogram kepada 100 pendonor tercepat. Program tersebut mendapat respons positif dari peserta dan dinilai mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan kemanusiaan.
Ketua MAGABUDHI Sulawesi Selatan sekaligus Ketua Panitia Donor Darah, PMd. Oscar Niora, mengatakan bahwa donor darah bukan sekadar kegiatan rutin tahunan, melainkan bentuk nyata pengamalan nilai-nilai Buddhis dalam kehidupan sehari-hari.
“Donor darah bukan hanya tentang memberikan darah, tetapi tentang memberikan harapan kehidupan kepada orang lain. Dalam ajaran Buddha, welas asih tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Hari ini kita melihat bagaimana semangat berbagi itu hadir tanpa memandang latar belakang, suku, maupun agama,” ujarnya.
Menurut Oscar, kegiatan sosial seperti donor darah juga menjadi sarana bagi generasi muda Buddhis untuk lebih aktif terlibat dalam aktivitas kemasyarakatan dan kemanusiaan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa umat Buddha hadir dan berkontribusi nyata untuk masyarakat. Semangat Waisak adalah semangat kedamaian, cinta kasih, dan pengorbanan demi kebaikan bersama. Donor darah menjadi simbol sederhana, namun memiliki dampak yang sangat besar bagi kehidupan manusia,” katanya.
Ia menilai, semangat berbagi dalam momentum Waisak perlu terus dirawat agar mampu memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Melalui kegiatan semacam ini, nilai kebersamaan dan kemanusiaan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat luas.

Sementara itu, Ketua PERMABUDHI Sulawesi Selatan, Dr. Ir. Yonggris, M.M., menegaskan bahwa Bulan Bakti PERMABUDHI bukan hanya agenda organisasi, tetapi juga gerakan moral yang terus diperkuat setiap tahun.
“Waisak mengajarkan kita tentang nilai kemanusiaan universal. Melalui donor darah ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk bersama-sama membangun budaya peduli terhadap sesama. Setetes darah dapat menyelamatkan nyawa, dan itu merupakan bentuk pengabdian kemanusiaan yang sangat luhur,” ungkapnya.
Yonggris berharap kegiatan sosial lintas masyarakat seperti ini dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi berbagai organisasi keagamaan maupun komunitas lainnya.
“Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang persaudaraan dan aksi nyata seperti ini. Kami percaya bahwa harmoni dapat dibangun melalui kepedulian bersama,” lanjutnya.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Pembimas Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Sumarjo, S.Ag., M.M. Ia memberikan apresiasi terhadap konsistensi PERMABUDHI Sulawesi Selatan dalam menghadirkan kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat luas.
Menurut Sumarjo, aksi donor darah memiliki makna spiritual yang mendalam karena berkaitan dengan nilai pengorbanan, cinta kasih, dan manfaat nyata bagi sesama.
“Dalam kehidupan beragama, nilai tertinggi bukan hanya ritual, tetapi bagaimana agama mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Donor darah ini adalah bentuk praktik Dharma yang sangat mulia karena menyentuh langsung kebutuhan kemanusiaan,” jelasnya.
Ia juga menilai kegiatan lintas masyarakat seperti donor darah sangat penting dalam memperkuat moderasi beragama serta menjaga persatuan di tengah keberagaman bangsa Indonesia.
“Ketika masyarakat berkumpul untuk membantu sesama tanpa melihat perbedaan, di situlah nilai luhur bangsa Indonesia benar-benar hidup. Saya mengapresiasi PERMABUDHI Sulawesi Selatan dan seluruh panitia yang terus konsisten menghadirkan kegiatan positif dan inspiratif seperti ini,” katanya.
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Para peserta tampak antusias mengikuti proses donor darah dengan tertib. Di sisi lain, panitia dan relawan bekerja sama memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar hingga selesai.
Momentum Hari Trisuci Waisak tahun ini tidak hanya dimaknai sebagai perayaan spiritual, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya kepedulian sosial dan solidaritas kemanusiaan. Melalui aksi donor darah tersebut, PERMABUDHI Sulawesi Selatan berharap semangat berbagi dan nilai-nilai kemanusiaan dapat terus tumbuh di tengah masyarakat.
Setetes darah yang disumbangkan para pendonor pada kegiatan itu menjadi simbol nyata cinta kasih, kepedulian, dan harapan bagi sesama yang membutuhkan.
Penulis : Justine Sun
Editor : Anisa Putri









