Jakarta, Sorotnesia.com — Kepemimpinan pemuda tidak cukup hanya ditopang kecerdasan intelektual, kemampuan berbicara, atau jabatan dalam organisasi. Generasi muda juga dituntut memiliki integritas, fondasi spiritual, kemampuan mengendalikan diri, serta keberanian menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Nyoman Suriadarma, S.Pd., M.Pd.B. saat memaparkan materi bertajuk Kepemimpinan Pemuda Berlandaskan Nilai Keagamaan di Jakarta, Sabtu (25/7/2026).
Dalam pemaparannya, Nyoman menegaskan bahwa hakikat kepemimpinan tidak diukur dari besarnya kekuasaan yang dimiliki, melainkan dari tanggung jawab dan manfaat yang mampu diberikan kepada orang lain.
“Pemimpin adalah pelayan. Semakin tinggi jabatan, semakin besar tanggung jawab.”
Menurutnya, seorang pemimpin harus mampu menjaga keselarasan antara pikiran, ucapan, dan tindakan. Integritas menjadi fondasi utama karena seseorang tidak akan mampu memimpin orang lain apabila belum mampu memimpin dirinya sendiri.
Ia menjelaskan, dalam perspektif Buddhis terdapat empat pilar yang menjadi dasar pembentukan karakter seorang pemimpin, yakni Sila, Sati, Mudita, dan Upekkha.
Sila mengajarkan kejujuran, konsistensi, dan keteladanan dalam menjalankan amanah. Sementara Sati menekankan pentingnya kesadaran diri serta kemampuan mengendalikan emosi ketika menghadapi tekanan maupun kritik.
Adapun Mudita mendorong seorang pemimpin untuk ikut berbahagia atas keberhasilan orang lain tanpa merasa tersaingi oleh kemampuan anggota yang lebih unggul. Sementara Upekkha mengajarkan keseimbangan batin sehingga pemimpin tidak mudah bereaksi secara emosional dalam menghadapi perbedaan maupun dinamika organisasi.
Nyoman juga menekankan bahwa pemimpin yang baik bukanlah sosok yang selalu ingin didengar, melainkan mereka yang mampu mendengarkan. Menurutnya, keterbukaan terhadap kritik dan perbedaan pandangan merupakan bagian penting dalam membangun organisasi yang sehat.
Selain karakter pribadi, ia menyoroti pentingnya membangun kepercayaan dalam organisasi sosial. Menurut Nyoman, kepemimpinan tidak hanya bertumpu pada legalitas formal atau jabatan, tetapi terutama dibangun melalui kepercayaan dari anggota.
Kepercayaan tersebut, kata dia, lahir dari keteladanan, integritas, keterbukaan, serta kepedulian terhadap sesama. Sebaliknya, kepercayaan dapat hilang apabila kepemimpinan dijalankan dengan ego, kemarahan, tekanan, maupun kepentingan pribadi.
Dalam kesempatan itu, Nyoman juga mengingatkan berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda dalam membangun organisasi.
Salah satunya adalah silo mentality, yakni kecenderungan individu atau kelompok bekerja dalam sekat-sekat tertentu sehingga menghambat kolaborasi. Selain itu, ia menyoroti munculnya ego kepemimpinan ketika seseorang hanya ingin berkontribusi apabila berada pada posisi atau jabatan tertentu.
Tantangan lain yang tidak kalah besar ialah distraksi digital. Menurut Nyoman, derasnya arus informasi dan penggunaan media digital berpotensi memecah fokus generasi muda apabila tidak disikapi secara bijaksana.
Ia juga mengingatkan bahaya sikap apatis terhadap persoalan sosial. Menurutnya, pemuda tidak boleh bersikap masa bodoh terhadap ketimpangan, persoalan masyarakat, maupun penderitaan sesama.
Karena itu, pemimpin muda dituntut memiliki kepekaan sosial serta keberanian untuk menghadirkan aksi nyata yang memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Nyoman menjelaskan bahwa proses menjadi pemimpin tidak berlangsung secara instan. Kepemimpinan harus dimulai dari kemampuan menguasai diri, kemudian berkembang melalui sinergi, empati sosial, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, kepemimpinan yang ideal tidak hanya mampu menggerakkan organisasi agar tetap aktif, tetapi juga menghasilkan manfaat bagi umat, masyarakat, dan bangsa.
“Pemimpin adalah pelayan. Semakin tinggi jabatan, semakin besar tanggung jawab.”
Sebagai penutup, Nyoman mengingatkan bahwa setiap pemimpin pada akhirnya akan dikenang melalui keputusan dan tindakan yang diambil selama menjalankan amanah. Oleh karena itu, setiap jabatan harus dijalankan dengan kebijaksanaan, nilai moral, serta kesadaran bahwa kepemimpinan merupakan bentuk tanggung jawab, bukan sekadar kehormatan.
Melalui nilai-nilai tersebut, ia berharap pemimpin muda mampu tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya siap berada di garis depan, tetapi juga bersedia melayani, bertanggung jawab, dan menghadirkan perubahan positif bagi masyarakat.
Penulis : Justine Sun
Editor : Anisa Putri









