Situbondo, Sorotnesia.com – Persoalan sampah di kawasan pesisir Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, mendorong Kelompok KKN Berdampak 174 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan alternatif pengelolaan sampah. Mahasiswa membangun dan menyerahkan satu unit rocket stove kepada Pemerintah Desa Kilensari, Senin (24/8/2026).
Rocket stove tersebut dirancang sebagai alat pembakaran sampah dengan asap yang lebih minim dibandingkan pembakaran terbuka. Kehadiran alat itu diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pengelolaan sampah di desa yang masih menghadapi keterbatasan fasilitas, sekaligus kebiasaan sebagian warga membuang sampah ke laut.
Penyerahan rocket stove menjadi bagian dari rangkaian program KKN Berdampak 174 UMM yang mengusung tema “Bersama Membangun Kilensari: Mewujudkan Generasi Cerdas, Lingkungan Lestari, dan Masyarakat Berdaya”. Program tersebut berlangsung selama 28 hari, mulai 31 Juli hingga 27 Agustus 2026.
Sampah Pesisir dan Keterbatasan Fasilitas
Desa Kilensari merupakan wilayah pesisir yang menghadapi persoalan pengelolaan sampah dari dua sisi. Selain sampah yang dihasilkan masyarakat, wilayah tersebut juga menerima sampah kiriman dari sungai dan laut.
Keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah membuat persoalan tersebut semakin kompleks. Sebagian warga masih memilih membuang sampah langsung ke laut karena dinilai lebih praktis.
Berdasarkan data profil persampahan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Situbondo yang dicantumkan dalam program KKN, perkiraan timbulan sampah di Desa Kilensari mencapai 3.308 liter atau sekitar 3,3 meter kubik per hari.
Jumlah tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan terhadap pengelolaan sampah yang lebih terarah. Persoalan yang dihadapi desa bukan semata-mata soal jumlah sampah, tetapi juga bagaimana sampah yang dihasilkan masyarakat dapat dikelola sebelum berakhir di lingkungan pesisir.
Hasil wawancara mahasiswa dengan salah satu warga juga menunjukkan bahwa persoalan tersebut berkaitan dengan pemanfaatan fasilitas yang telah tersedia.
Menurut warga, sejumlah tong sampah sebenarnya telah ditempatkan di beberapa titik. Namun, fasilitas tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh masyarakat.
Sebagian tong sampah bahkan dipindahkan atau diambil oleh warga karena dianggap mengganggu aktivitas dan menimbulkan bau. Kondisi tersebut turut memengaruhi pilihan sebagian masyarakat untuk membuang sampah ke laut.
“Tempat sampahnya sudah ada, tapi masyarakatnya kurang sadar itu. Sudah dikasih tempat sampah besar itu, diambil sama orang sini, bau katanya. Enakan dibuang ke sini (laut), biar kotor,” ujar salah satu warga Desa Kilensari.
Temuan tersebut menjadi salah satu pertimbangan mahasiswa dalam menentukan bentuk intervensi yang dilakukan selama KKN. Mahasiswa tidak hanya melihat persoalan dari sisi ketersediaan tempat sampah, tetapi juga kebutuhan terhadap alternatif pengolahan sampah yang dapat digunakan di tingkat desa.
Dari kondisi itu, kelompok KKN Berdampak 174 memilih membangun rocket stove. Alat tersebut dinilai relatif sederhana untuk dioperasikan dan menghasilkan asap yang lebih minim dibandingkan pembakaran sampah secara terbuka.
Dibangun Enam Hari
Pembangunan rocket stove dilakukan secara langsung oleh anggota KKN Berdampak 174 UMM. Proses pembangunan berlangsung selama enam hari, mulai 16 hingga 22 Agustus 2026.
Lokasi pembangunan ditentukan berdasarkan kesepakatan dengan Pemerintah Desa Kilensari. Setelah pembangunan selesai, mahasiswa melakukan uji coba untuk memastikan alat dapat digunakan sebelum diserahterimakan kepada pemerintah desa.
Tahapan tersebut menjadi bagian penting dari program karena alat yang dibangun tidak hanya ditujukan sebagai hasil akhir kegiatan KKN, tetapi diharapkan dapat digunakan setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdian di desa.
Penyerahan secara resmi dilakukan pada Senin, 24 Agustus 2026. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menyerahkan satu unit rocket stove kepada Pemerintah Desa Kilensari.
Mahasiswa juga memberikan penjelasan kepada perangkat desa mengenai cara pengoperasian alat. Penjelasan tersebut diberikan agar perangkat desa memahami penggunaan alat dan dapat meneruskan pemanfaatannya setelah program KKN berakhir.
Bagi kelompok KKN, penyerahan alat menjadi salah satu capaian program yang dapat ditinggalkan untuk masyarakat. Namun, keberadaan fasilitas tersebut tetap membutuhkan pengelolaan dan penggunaan secara berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan.
Pemilahan Sampah Dimulai dari Sekolah
Kelompok KKN Berdampak 174 UMM menyadari bahwa pembangunan rocket stove tidak dapat berdiri sendiri. Alat tersebut hanya dapat digunakan secara efektif untuk mengolah sampah kering sehingga pemilahan sampah menjadi bagian penting sebelum proses pengolahan.
Atas pertimbangan tersebut, mahasiswa juga menjalankan program sosialisasi pemilahan sampah di dua sekolah dasar, yakni SDN 01 Kilensari dan SDN 09 Kilensari.
Program di sekolah diarahkan untuk memperkenalkan kebiasaan memilah sampah sejak usia dini. Mahasiswa mengenalkan perbedaan antara sampah kering atau anorganik dan sampah basah atau organik melalui demonstrasi langsung.
Dalam kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan pada berbagai contoh sampah yang biasa ditemukan dalam aktivitas sehari-hari. Metode demonstrasi digunakan agar siswa tidak hanya menerima penjelasan secara teori, tetapi juga dapat mengenali dan membedakan sampah secara langsung.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya kelompok untuk membangun kesadaran lingkungan sejak tingkat sekolah dasar. Kebiasaan memilah sampah dari sumbernya dinilai penting karena menentukan bagaimana sampah dapat dikelola pada tahap berikutnya.
Selain sosialisasi, mahasiswa membuat tempat sampah sederhana dengan memanfaatkan galon bekas minuman. Bagian tengah galon dilubangi dan dilengkapi jaring-jaring untuk mendukung sirkulasi udara.
Jaring-jaring tersebut menjadi bagian dari wadah penampungan, sedangkan galon bekas digunakan untuk memperkuat struktur tempat sampah. Pemanfaatan bahan bekas juga menjadi bagian dari upaya mengurangi limbah sekaligus menyediakan sarana pemilahan yang sederhana dan ekonomis.
Tempat sampah tersebut diharapkan dapat terus digunakan oleh siswa dalam kegiatan sehari-hari. Dengan begitu, pemilahan sampah tidak berhenti sebagai materi sosialisasi, tetapi dapat diterapkan secara langsung di lingkungan sekolah.
Menghubungkan Pemilahan dan Pengolahan
Dua program yang dijalankan kelompok KKN tersebut dirancang untuk saling berkaitan. Sosialisasi di sekolah ditempatkan sebagai upaya membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya, sedangkan rocket stove menjadi salah satu alternatif pengolahan untuk sampah kering.
Sampah yang telah dipilah dapat diarahkan pada pengelolaan sesuai jenisnya. Sampah kering menjadi bagian yang dapat dimanfaatkan dalam penggunaan rocket stove, sementara sampah basah dapat dikelola melalui cara yang berbeda.
Pola tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan menyediakan tempat pembuangan atau alat pengolahan. Pemilahan dari sumber, ketersediaan fasilitas, serta kebiasaan masyarakat menjadi rangkaian yang saling berkaitan.
Bagi Desa Kilensari, persoalan tersebut menjadi tantangan tersendiri karena volume sampah yang dihasilkan setiap hari cukup besar dan wilayahnya berada di kawasan pesisir. Ketika sampah tidak dikelola dengan baik, lingkungan laut berpotensi kembali menjadi tempat pembuangan.
Target Terpenuhi, Dampak Belum Terukur
Dari sisi pelaksanaan, kelompok KKN Berdampak 174 UMM menyatakan target program telah tercapai. Satu unit rocket stove berhasil dibangun dan diserahterimakan kepada Pemerintah Desa Kilensari sesuai rencana.
Meski demikian, kelompok belum dapat mengukur dampak jangka panjang dari keberadaan alat tersebut. Penurunan volume sampah yang dibuang ke laut maupun efektivitas rocket stove dalam mengurangi volume sampah secara keseluruhan masih memerlukan pemantauan setelah alat digunakan oleh masyarakat.
Hal tersebut menjadi catatan penting dalam melihat keberhasilan program. Capaian pembangunan fasilitas merupakan hasil yang dapat dilihat secara langsung, sedangkan perubahan perilaku masyarakat membutuhkan waktu lebih panjang.
Keberlanjutan juga menjadi faktor penentu. Rocket stove tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak digunakan secara rutin atau tidak disertai pengelolaan sampah yang baik dari tingkat rumah tangga.
Karena itu, keberadaan alat perlu diikuti dengan pengelolaan oleh pemerintah desa dan masyarakat. Sosialisasi pemilahan sampah juga perlu terus dilakukan agar masyarakat memahami jenis sampah yang dapat dikelola melalui fasilitas tersebut.
Menyiapkan Pengelolaan dari Hulu
Program KKN Berdampak 174 UMM di Desa Kilensari pada akhirnya tidak hanya berfokus pada penyerahan sebuah alat. Kelompok mencoba menghubungkan persoalan di tingkat rumah tangga, sekolah, hingga fasilitas pengolahan di desa.
Rocket stove menjadi salah satu alternatif pada tahap pengolahan, sedangkan edukasi pemilahan sampah menyasar tahap awal. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah membutuhkan perubahan kebiasaan sekaligus dukungan fasilitas.
Bagi mahasiswa, program tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan solusi yang disesuaikan dengan persoalan yang ditemukan di lapangan. Bagi desa, fasilitas yang diserahkan menjadi aset program yang manfaatnya masih harus dibuktikan melalui penggunaan secara berkelanjutan.
Kelompok KKN Berdampak 174 UMM berharap kontribusi tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi ketergantungan sebagian warga terhadap laut sebagai tempat pembuangan sampah.
Tema “Bersama Membangun Kilensari: Mewujudkan Generasi Cerdas, Lingkungan Lestari, dan Masyarakat Berdaya” kemudian diterjemahkan melalui dua pendekatan, yakni membangun fasilitas pengolahan dan memperkenalkan kebiasaan memilah sampah sejak dini.
Dampak akhirnya tetap bergantung pada keberlanjutan setelah mahasiswa meninggalkan Desa Kilensari. Jika fasilitas digunakan dan kebiasaan memilah sampah terus diterapkan, program tersebut memiliki peluang untuk menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah desa.
Namun, tanpa penggunaan rutin dan perubahan perilaku masyarakat, keberadaan satu unit alat belum cukup untuk menyelesaikan persoalan sampah yang setiap hari mencapai sekitar 3,3 meter kubik tersebut.
Karena itu, penyerahan rocket stove pada 24 Agustus 2026 lebih tepat dipandang sebagai titik awal. Tantangan berikutnya berada pada pemerintah desa dan masyarakat untuk memastikan fasilitas tersebut benar-benar digunakan dan program pemilahan sampah dapat terus berjalan.
Bagi wilayah pesisir seperti Kilensari, keberhasilan pengelolaan sampah bukan hanya soal kebersihan lingkungan permukiman. Upaya tersebut juga berkaitan dengan menjaga laut agar tidak terus menjadi tempat berakhirnya sampah yang dihasilkan masyarakat.
Penulis : KKN 174 UMM
Editor : Fadli Akbar









