Menolak Tunduk: Jejak Kebebasan Perempuan dalam Sosok Sri Karya Nh. Dini

- Redaksi

Sabtu, 20 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

Pergulatan batin yang dialami Sri merupakan gambaran nyata mengenai benturan antara kekuasaan patriarki dan hak individu untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Tokoh perempuan dalam karya Nh. Dini tersebut tumbuh di tengah lingkungan yang sejak awal tidak sepenuhnya menerima kehadirannya. Stigma sebagai anak yang tidak diharapkan membentuk luka psikologis yang terus membayangi perjalanan hidupnya. Situasi itu membuat Sri tumbuh dengan kecenderungan menjadi seorang people-pleaser, yakni sosok yang selalu berusaha menyenangkan orang lain demi memperoleh pengakuan dan kasih sayang.

Bagi Sri, kepatuhan bukan sekadar pilihan sikap, melainkan strategi untuk bertahan hidup. Ia terbiasa menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan keluarga agar tidak semakin tersisih. Kehendak pribadi perlahan terkubur di bawah ekspektasi orang-orang di sekitarnya. Dalam kondisi demikian, kebahagiaan dan kebutuhan dirinya sendiri sering kali ditempatkan pada urutan terakhir.

Perubahan besar mulai terjadi ketika Sri berhasil membangun karier sebagai pramugari maskapai internasional. Pekerjaan itu tidak hanya mengubah status sosialnya, tetapi juga memperluas cakrawala berpikirnya. Dunia yang lebih terbuka mempertemukannya dengan berbagai pengalaman dan cara pandang baru yang selama ini tidak pernah ia temui. Perlahan, Sri menyadari bahwa hidup tidak semestinya dijalani hanya untuk memenuhi harapan orang lain.

Lingkungan sosial yang baru memberi pengaruh besar terhadap pembentukan kesadaran dirinya. Dunia penerbangan yang dinamis memperlihatkan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkarya. Kehidupan tidak harus selalu dipusatkan pada peran domestik yang selama ini dianggap sebagai kodrat mutlak perempuan. Kesadaran tersebut menumbuhkan keberanian dalam diri Sri untuk mempertanyakan berbagai standar moral yang selama bertahun-tahun diterimanya tanpa perlawanan.

Pengalaman keterasingan yang pernah dirasakan di lingkungan keluarga justru menjadi modal penting bagi lahirnya sikap mandiri. Luka yang semula membebani dirinya berubah menjadi kekuatan untuk berdiri di atas pilihan sendiri. Sri tidak lagi ingin memosisikan diri sebagai korban pasif dalam relasi yang timpang. Ia mulai mengambil jarak dari berbagai tuntutan yang selama ini membatasi kebebasan berpikir dan bertindaknya.

Baca Juga :  Dari Rak ke Layar: Terbitan Berseri di Era Digital

Perubahan itu tidak terjadi secara instan. Ada pergulatan panjang yang harus ia hadapi sebelum mampu keluar dari kebiasaan menyenangkan orang lain. Ketika seseorang terbiasa hidup berdasarkan validasi eksternal, keberanian untuk berkata tidak sering kali menghadirkan rasa bersalah. Sri pun mengalami fase tersebut. Ia harus berhadapan dengan penilaian orang lain, bahkan kemungkinan kehilangan penerimaan dari lingkungan yang selama ini dianggap sebagai rumah.

Melalui perjalanan batin yang kompleks itu, pembaca dapat melihat bahwa konsep self-love yang dijalani Sri tidak identik dengan sikap egois atau keinginan memanjakan diri. Mencintai diri sendiri justru hadir dalam bentuk keberanian untuk menghargai batas-batas pribadi. Sikap tersebut tercermin dari penolakannya untuk terus menjadi sosok yang selalu mengalah dan mengorbankan dirinya demi kenyamanan orang lain.

Perlawanan yang dilakukan Sri bukanlah bentuk pemberontakan tanpa arah. Pilihan itu lahir dari kesadaran bahwa kesehatan mental dan kedamaian batin memiliki nilai yang tidak dapat ditukar dengan pengakuan sosial. Ia belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak dapat dibangun di atas kebutuhan untuk selalu disukai. Ketergantungan pada validasi dari luar hanya akan membuat seseorang kehilangan jati dirinya sendiri.

Dalam masyarakat yang masih dipengaruhi budaya patriarki, perempuan yang berani menentukan pilihannya sendiri kerap dicap sebagai pribadi keras kepala, egois, bahkan pembangkang. Label semacam itu menjadi tekanan sosial yang tidak ringan. Namun, Sri memperlihatkan bahwa mempertahankan martabat dan kebebasan pribadi jauh lebih penting daripada terus hidup dalam bayang-bayang penilaian orang lain.

Baca Juga :  Toxic Workplace: Bagaimana Perundungan di Kantor Menurunkan Profitabilitas Perusahaan

Pesan yang dibawa karakter Sri menjadi semakin relevan ketika banyak perempuan modern masih menghadapi tekanan serupa. Meski bentuknya berubah, tuntutan agar perempuan selalu menjadi sosok yang penurut, sabar, dan mendahulukan kepentingan orang lain masih sering dijumpai. Tidak sedikit perempuan yang merasa bersalah ketika mulai memprioritaskan kebutuhan dirinya sendiri. Padahal, menjaga kesehatan mental dan menghormati diri sendiri merupakan bagian penting dari kehidupan yang sehat.

Melalui sosok Sri, Nh. Dini menghadirkan narasi yang melampaui zamannya. Ia menunjukkan bahwa kebebasan perempuan bukanlah ancaman bagi tatanan sosial, melainkan hak yang melekat pada setiap manusia. Kebebasan tersebut tidak selalu diwujudkan melalui perlawanan yang keras dan terbuka. Terkadang, keberanian paling besar justru muncul dari keputusan sederhana untuk tidak lagi tunduk pada ekspektasi yang merampas kebahagiaan diri.

Perjalanan emosional Sri mengajarkan bahwa menjadi diri sendiri secara utuh merupakan salah satu pencapaian paling berharga dalam kehidupan manusia. Pilihan untuk merdeka secara batin memang tidak selalu menghadirkan kenyamanan. Ada kalanya seseorang harus berjalan sendirian dan menghadapi berbagai penilaian yang menyakitkan. Namun, kesetiaan terhadap prinsip dan penghormatan terhadap diri sendiri jauh lebih bermakna dibanding terus mengorbankan kebahagiaan demi memenuhi keinginan orang lain.

Karakter Sri dalam karya Nh. Dini menghadirkan pesan yang kuat mengenai pentingnya ketegasan sikap perempuan di tengah dominasi sosial yang masih berlangsung hingga kini. Merawat diri, menjaga kesehatan batin, dan berani mengatakan tidak bukanlah bentuk keegoisan. Semua itu merupakan bagian dari proses panjang untuk mempertahankan martabat sebagai manusia yang berhak menentukan arah hidupnya sendiri. Dari sosok Sri, pembaca diajak memahami bahwa kebebasan bukan sesuatu yang diberikan oleh orang lain, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan dengan keberanian dan kesadaran penuh.

Penulis : Nabila Ulfa Ayu | Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Editor : Intan Permata

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ironi Pendidikan Karakter: Pelecehan Seksual di Grup Chat Mahasiswa Calon Penegak Hukum
Reformasi Jaring Pengaman Sosial dan Ekonomi Perawatan bagi Lansia di Pedesaan
Swasembada Pangan dan Program Cetak Sawah dalam Perspektif Positivisme
Ketika Orang Biasa Menjadi Korban Perubahan: Refleksi dari Sri Sumarah dan Bawuk
Membangun Karakter Mahasiswa melalui Internalisasi Nilai-Nilai Agama di Kampus
Peran Orang Tua dalam Membentuk Karakter Anak di Era Digital
Perlukah Indonesia Memiliki Hukum Pailit Khusus UMKM?
Meningkatkan Kewaspadaan Mahasiswa Akuntansi terhadap Penyebaran Paham Terorisme di Era Digital

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 08:44 WIB

Menolak Tunduk: Jejak Kebebasan Perempuan dalam Sosok Sri Karya Nh. Dini

Kamis, 18 Juni 2026 - 10:13 WIB

Ironi Pendidikan Karakter: Pelecehan Seksual di Grup Chat Mahasiswa Calon Penegak Hukum

Rabu, 17 Juni 2026 - 07:09 WIB

Reformasi Jaring Pengaman Sosial dan Ekonomi Perawatan bagi Lansia di Pedesaan

Senin, 15 Juni 2026 - 18:02 WIB

Ketika Orang Biasa Menjadi Korban Perubahan: Refleksi dari Sri Sumarah dan Bawuk

Minggu, 14 Juni 2026 - 12:29 WIB

Membangun Karakter Mahasiswa melalui Internalisasi Nilai-Nilai Agama di Kampus

Berita Terbaru