Srintil dan Tradisi Ronggeng dalam Kehidupan Masyarakat Dukuh Paruk

- Redaksi

Selasa, 16 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari menghadirkan potret kehidupan masyarakat pedesaan yang masih sangat kuat memegang tradisi. Salah satu tradisi yang menonjol dalam cerita ini ialah ronggeng, sebuah kesenian yang bukan hanya dipahami sebagai hiburan, melainkan juga bagian penting dari identitas sosial masyarakat Dukuh Paruk. Melalui tokoh Srintil, pembaca diajak melihat bagaimana tradisi dapat menjadi kekuatan yang membentuk kehidupan seseorang, sekaligus menghadirkan persoalan mengenai kebebasan individu, terutama perempuan.

Dalam cerita tersebut, Srintil menjadi pusat perhatian setelah dipilih sebagai ronggeng baru di Dukuh Paruk. Kehadirannya dianggap penting karena desa itu kehilangan sosok ronggeng yang selama ini dipercaya memiliki peran besar dalam kehidupan sosial masyarakat. Bagi warga Dukuh Paruk, ronggeng tidak sekadar penari. Ronggeng diyakini membawa semangat hidup, menjadi simbol kebanggaan desa, bahkan dianggap memiliki posisi sosial yang istimewa.

Peristiwa pengangkatan Srintil sebagai ronggeng berlangsung di tengah masyarakat yang masih sangat bergantung pada adat istiadat. Dukuh Paruk digambarkan sebagai wilayah terpencil dengan kehidupan yang sederhana dan jauh dari pengaruh modernisasi. Tokoh-tokoh seperti Rasus, para tetua adat, serta masyarakat desa turut memperlihatkan bagaimana tradisi bekerja secara kolektif dan diterima sebagai sesuatu yang lumrah. Proses pengangkatan Srintil dilakukan melalui ritual adat yang dipercaya sebagai bagian dari keseimbangan kehidupan masyarakat.

Baca Juga :  “Luwes, Ikhlas, Sabar”: Kisah Pak Asep, Satpam Ma’had UIN Bandung yang Ramah dan Selalu Tersenyum

Namun, di balik penghormatan terhadap ronggeng, tersimpan realitas sosial yang lebih kompleks. Srintil memang mendapatkan posisi terhormat, tetapi kehidupannya tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya sendiri. Ia harus menjalani berbagai aturan sosial yang telah ditentukan oleh lingkungan tempat ia hidup. Situasi ini memperlihatkan bahwa tradisi tidak selalu hadir dalam posisi yang netral. Dalam beberapa keadaan, tradisi justru dapat membatasi ruang kebebasan seseorang untuk menentukan pilihan hidupnya.

Dari sudut pandang saya, kisah Srintil memperlihatkan adanya ketimpangan kuasa antara individu dan budaya yang mengikatnya. Masyarakat memiliki otoritas besar dalam menentukan jalan hidup seseorang atas nama nilai bersama. Kondisi seperti ini sesungguhnya masih relevan dengan kehidupan saat ini. Tidak sedikit individu yang harus menyesuaikan diri dengan ekspektasi sosial, keluarga, atau budaya, meskipun bertentangan dengan keinginan pribadi. Tekanan lingkungan sering kali membuat seseorang sulit menentukan jalan hidup secara bebas.

Jika dicermati lebih jauh, novel ini juga menunjukkan hubungan erat antara kemiskinan, keterbatasan pendidikan, dan kuatnya pengaruh tradisi. Masyarakat Dukuh Paruk tidak hanya menjalankan budaya sebagai bagian dari warisan leluhur, tetapi juga menggantungkan harapan hidup pada tradisi tersebut. Ronggeng menjadi simbol yang dipercaya mampu membawa kehidupan bagi desa, baik secara sosial maupun ekonomi. Karena itulah, keberadaan Srintil memperoleh tempat yang sangat penting di tengah masyarakat.

Baca Juga :  Kehilangan Mestika: Ketika Identitas, Tradisi, dan Modernitas Saling Bertabrakan

Di sisi lain, kondisi tersebut juga memperlihatkan bagaimana seseorang dapat berada dalam posisi yang paradoks. Srintil dihormati, dipuja, bahkan dianggap memiliki kedudukan istimewa. Akan tetapi, penghormatan itu hadir bersamaan dengan keterikatan terhadap sistem sosial yang membatasi kebebasannya. Situasi inilah yang membuat karakter Srintil terasa kuat dan manusiawi. Ia bukan sekadar tokoh dalam cerita, melainkan representasi dari individu yang harus berhadapan dengan tuntutan sosial yang besar.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk tidak hanya berbicara mengenai kehidupan seorang ronggeng di desa terpencil. Lebih dari itu, cerita ini menghadirkan refleksi tentang bagaimana tradisi, budaya, dan struktur sosial dapat memengaruhi kehidupan seseorang secara mendalam. Pembaca diajak memahami bahwa tradisi memang menyimpan nilai penting yang layak dijaga, tetapi pada saat yang sama perlu dilihat secara kritis ketika mulai menyentuh wilayah kebebasan individu.

Melalui sosok Srintil, Ahmad Tohari memperlihatkan bahwa perempuan sering berada dalam posisi yang kompleks dalam sistem sosial. Ada penghormatan yang diterima, tetapi juga terdapat beban sosial yang harus dipikul. Dari cerita ini, saya melihat bahwa tidak semua tradisi selalu membawa dampak yang sepenuhnya positif. Sebagian tradisi dapat memperkuat identitas masyarakat, tetapi sebagian lain juga memerlukan ruang evaluasi agar tetap relevan dengan nilai kemanusiaan dan penghormatan terhadap kebebasan individu.

Penulis : Suhairiyah / Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tanda-Tanda Rumah Mulai Diserang Rayap yang Sering Tidak Disadari
Kehilangan Mestika: Ketika Identitas, Tradisi, dan Modernitas Saling Bertabrakan
Mengapa Belenggu Masih Terasa Dekat dengan Kehidupan Kita?
Kebun Markisa Blunyahrejo, Dari Lahan Kosong Menjadi Nadi Ekonomi Warga
Langkah Besar yang Mengantar Raisya Rabiah Jadi Duta Favorit
Suara yang Pulang ke Langit, Cahaya yang Tinggal di Bumi
Menelisik Perjalanan Anak Muda Bandung, Menemukan Jati Diri hingga ke Negeri Sakura
Dua Jiwa, Satu Lapangan: Perjalanan Silva dan Silvi Menyemai Mimpi di Voli Pasir

Berita Terkait

Selasa, 23 Juni 2026 - 17:12 WIB

Tanda-Tanda Rumah Mulai Diserang Rayap yang Sering Tidak Disadari

Senin, 22 Juni 2026 - 08:33 WIB

Kehilangan Mestika: Ketika Identitas, Tradisi, dan Modernitas Saling Bertabrakan

Selasa, 16 Juni 2026 - 19:16 WIB

Srintil dan Tradisi Ronggeng dalam Kehidupan Masyarakat Dukuh Paruk

Minggu, 14 Juni 2026 - 18:46 WIB

Mengapa Belenggu Masih Terasa Dekat dengan Kehidupan Kita?

Jumat, 16 Januari 2026 - 07:25 WIB

Kebun Markisa Blunyahrejo, Dari Lahan Kosong Menjadi Nadi Ekonomi Warga

Berita Terbaru