Ketika Shopping Haul Menjadi Gaya Hidup: Peran Influencer dalam Mempercepat Krisis Ekologis

- Redaksi

Jumat, 26 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Salah satu perubahan yang paling terasa hadir melalui media sosial yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di dalam ekosistem digital tersebut, influencer menjelma menjadi figur yang memiliki daya pengaruh besar terhadap cara berpikir, gaya hidup, hingga pola konsumsi masyarakat.

Coba perhatikan konten para influencer yang digemari banyak orang. Tidak sedikit dari mereka yang secara rutin membuat video shopping haul, memamerkan tumpukan pakaian baru, koleksi produk kecantikan dalam berbagai warna, atau barang-barang yang sebenarnya sulit digunakan seluruhnya. Konten seperti ini memperoleh jutaan tayangan dan ribuan komentar yang menunjukkan antusiasme audiens. Namun, di balik banyaknya like dan views, terdapat dampak yang jarang dibicarakan. Perilaku konsumtif secara perlahan dinormalisasi dan dianggap sebagai bagian dari gaya hidup modern yang wajar.

Padahal, normalisasi tersebut memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar daripada sekadar persoalan gaya hidup. Budaya konsumsi berlebihan turut mempercepat kerusakan lingkungan melalui meningkatnya volume limbah serta eksploitasi sumber daya alam yang terus berlangsung. Dalam konteks inilah, influencer memiliki peran yang tidak kecil dalam memperparah krisis ekologis melalui narasi konsumsi yang mereka sebarkan kepada jutaan pengikutnya.

Mengoleksi produk riasan dalam berbagai rentang warna, membeli barang mewah seolah-olah menjadi kebutuhan pokok, atau menjadikan pembelian pakaian baru sebagai rutinitas bulanan merupakan bentuk konsumsi yang tidak sehat. Konten-konten semacam ini telah menjadi instrumen penting dalam membentuk budaya konsumsi berlebihan di ruang digital.

Jika diamati lebih jauh, daya tarik utama konten shopping haul tidak hanya terletak pada barang yang dibeli, melainkan pada sensasi dan euforia saat membuka tumpukan paket baru. Di balik kesenangan tersebut, terdapat persoalan yang sering luput dari perhatian, yaitu limbah yang ditinggalkan. Bubble wrap, kantong plastik, kardus, hingga lakban menjadi residu yang jarang diperlihatkan setelah kamera dimatikan. Padahal, semua material tersebut pada akhirnya akan berakhir di tempat pembuangan sampah atau mencemari lingkungan.

Keterkaitan antara budaya belanja masif dengan kerusakan ekologis semakin nyata ketika melihat industri yang menopang tren tersebut. Industri tekstil, misalnya, menyumbang sekitar 9 persen polusi mikroplastik di lautan setiap tahun (Thalatie K Yani, 2025). Angka tersebut menunjukkan bahwa pakaian yang tampak sederhana ternyata memiliki jejak lingkungan yang sangat besar.

Baca Juga :  Membangun Karakter Mahasiswa melalui Internalisasi Nilai-Nilai Agama di Kampus

Dampak itu tidak berhenti pada proses produksi. Tahap perawatan pakaian juga menyumbang persoalan serius. Proses pencucian menjadi salah satu sumber utama pelepasan mikroplastik, yaitu partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter. Penelitian menunjukkan bahwa pencucian pakaian dapat menghasilkan rata-rata 2.239 partikel mikroplastik per liter air. Penggunaan deterjen, usia pakaian, sistem putaran mesin cuci, hingga volume air yang digunakan terbukti memengaruhi jumlah serat mikroplastik yang terlepas ke saluran pembuangan.

Artinya, semakin tinggi frekuensi masyarakat membeli dan menggunakan pakaian baru, semakin besar pula potensi pencemaran yang dihasilkan. Ketika influencer secara konsisten menampilkan gaya hidup konsumtif, mereka secara tidak langsung mendorong peningkatan penggunaan plastik, bahan kimia, dan produksi limbah rumah tangga. Paparan yang terus-menerus terhadap narasi tersebut membuat masyarakat perlahan menganggap konsumsi berlebihan sebagai sesuatu yang normal, bahkan menjadi standar kehidupan yang dianggap ideal.

Padahal, generasi sebelum era media sosial mampu hidup dengan pola konsumsi yang jauh lebih sederhana. Mereka membeli barang berdasarkan kebutuhan, bukan semata-mata dorongan tren atau keinginan sesaat. Kebiasaan konsumsi yang berlebihan saat ini justru menjadi salah satu faktor yang mempercepat perubahan iklim dan memperkuat praktik eksploitasi alam yang tidak berkesudahan.

Besarnya pengaruh influencer tidak dapat dilepaskan dari cara mereka membangun komunikasi dengan pengikutnya. Berbeda dengan iklan konvensional di televisi yang terasa formal dan berjarak, influencer menghadirkan komunikasi yang lebih personal dan akrab. Kedekatan tersebut menciptakan ilusi hubungan emosional antara audiens dengan figur yang mereka ikuti.

Fenomena ini dikenal sebagai hubungan parasosial, yaitu kondisi ketika seseorang merasa memiliki kedekatan dengan figur publik meskipun tidak terdapat interaksi langsung. Hubungan semacam ini membuat rekomendasi yang diberikan influencer memiliki kekuatan persuasi yang sangat tinggi.

Ketika seorang influencer mengatakan, “Kamu wajib punya produk ini”, banyak pengikut yang menerimanya tanpa proses berpikir kritis. Keputusan membeli tidak lagi didasarkan pada kebutuhan, melainkan pada keinginan untuk mengikuti tren dan menghindari rasa takut tertinggal atau Fear of Missing Out (FOMO). Akibatnya, aktivitas belanja bergeser dari sarana pemenuhan kebutuhan menjadi bentuk hiburan.

Baca Juga :  Perspektif Mahasiswa: Membaca Sisi Gelap Anggaran MBG dan Strategi Politik Kekuasaan

Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Kerusakan lingkungan dibungkus dalam kemasan yang menarik, estetik, dan menyenangkan. Konsumsi berlebihan dipromosikan melalui video yang menghibur, sehingga dampak ekologis yang menyertainya menjadi seolah-olah tidak terlihat.

Meski demikian, keberadaan influencer tidak sepenuhnya membawa dampak negatif. Mereka juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif dan membantu pelaku UMKM menjangkau pasar yang lebih luas. Banyak produk lokal yang berkembang berkat promosi dari para kreator digital.

Namun, pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah, apakah pertumbuhan ekonomi harus dibayar dengan kerusakan lingkungan yang mengancam keberlangsungan hidup manusia? Kemajuan ekonomi yang ditopang oleh budaya pakai lalu buang sesungguhnya merupakan kemunduran dari nilai-nilai keberlanjutan atau sustainability yang selama ini terus diperjuangkan.

Kesenangan yang lahir dari tumpukan paket dan barang baru pada dasarnya hanya memberikan kepuasan sesaat. Sebaliknya, dampak lingkungan yang ditimbulkan dapat berlangsung dalam jangka panjang dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, tanggung jawab menghadapi persoalan ini tidak hanya berada di pundak influencer, tetapi juga pada masyarakat sebagai audiens.

Masyarakat perlu membangun kesadaran untuk menerapkan mindful consumption, yaitu membeli dan menggunakan barang secara bijak sesuai kebutuhan. Publik juga perlu lebih kritis dalam memilih figur yang diikuti serta tidak terus-menerus memberikan perhatian kepada konten yang secara terang-terangan mempromosikan gaya hidup eksploitatif.

Krisis ekologis sesungguhnya merupakan cerminan dari pilihan hidup manusia modern. Standar kebahagiaan yang selama ini diukur dari banyaknya barang yang dimiliki perlu digeser menjadi kesadaran untuk hidup lebih sederhana dan ramah lingkungan. Sebab, jika budaya konsumsi yang berlebihan terus dipertahankan, maka video-video shopping haul yang kita nikmati hari ini dapat menjadi catatan tentang bagaimana manusia secara perlahan ikut menyaksikan kerusakan ekosistem yang menopang kehidupannya sendiri.

Penulis : Vitra Alfiyara

Editor : Fadli Akbar

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Digital Citizenship: Fondasi Baru Membangun Demokrasi yang Sehat di Era Digital
Nikah Siri: Antara Keabsahan Agama dan Perlindungan Hak Keluarga
Pernikahan Modern dan Pernikahan Tradisional: Memadukan Nilai Budaya dengan Tuntutan Zaman
Menghidupkan Kembali Keluarga Sakinah di Era Digital yang Serba Terhubung
Menjinakkan Biaya Logistik, Mengapa Distribusi Pangan Sama Pentingnya dengan Produksi?
Menolak Tunduk: Jejak Kebebasan Perempuan dalam Sosok Sri Karya Nh. Dini
Ironi Pendidikan Karakter: Pelecehan Seksual di Grup Chat Mahasiswa Calon Penegak Hukum
Reformasi Jaring Pengaman Sosial dan Ekonomi Perawatan bagi Lansia di Pedesaan

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 14:39 WIB

Ketika Shopping Haul Menjadi Gaya Hidup: Peran Influencer dalam Mempercepat Krisis Ekologis

Jumat, 26 Juni 2026 - 13:40 WIB

Digital Citizenship: Fondasi Baru Membangun Demokrasi yang Sehat di Era Digital

Kamis, 25 Juni 2026 - 08:23 WIB

Nikah Siri: Antara Keabsahan Agama dan Perlindungan Hak Keluarga

Rabu, 24 Juni 2026 - 15:22 WIB

Pernikahan Modern dan Pernikahan Tradisional: Memadukan Nilai Budaya dengan Tuntutan Zaman

Selasa, 23 Juni 2026 - 16:42 WIB

Menghidupkan Kembali Keluarga Sakinah di Era Digital yang Serba Terhubung

Berita Terbaru