Pergaulan Anak Sekolah Dasar yang Melampaui Usia Perkembangan

- Redaksi

Senin, 29 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kekhawatiran publik terhadap pergaulan anak sekolah dasar semakin beralasan. Anak-anak yang secara psikologis masih berada pada fase bermain dan belajar dasar kini kerap menampilkan perilaku yang melampaui usia perkembangannya.

Bahasa yang kasar, sikap kurang hormat kepada guru dan orang tua, hingga kecenderungan meniru gaya hidup orang dewasa menjadi gejala yang semakin mudah dijumpai. Fenomena ini bukan sekadar soal perubahan zaman, melainkan menyangkut arah pembentukan karakter generasi mendatang.

Perubahan pola pergaulan tersebut tidak muncul dalam ruang hampa. Paparan teknologi digital yang nyaris tanpa sekat menjadi salah satu faktor paling dominan. Gawai yang semula dimaksudkan sebagai alat bantu belajar berubah menjadi pintu masuk berbagai konten yang belum layak dikonsumsi anak.

Tanpa pendampingan memadai, anak menyerap nilai, bahasa, dan perilaku yang belum mampu mereka saring secara kritis. Dalam konteks ini, teknologi bukan sumber masalah tunggal, tetapi menjadi katalis yang mempercepat distorsi nilai ketika kontrol orang dewasa melemah.

Baca Juga :  Kehidupan Berbangsa, Bernegara, dan Pentingnya Kesadaran Bela Negara

Di sisi lain, lingkungan sosial turut memberi pengaruh signifikan. Minimnya kehadiran figur teladan di sekitar anak mendorong mereka mencari referensi dari luar, termasuk dari media sosial atau kelompok pergaulan yang lebih dewasa.

Ketika orang tua sibuk, komunikasi di rumah menipis, dan interaksi emosional berkurang, anak cenderung mengisi kekosongan itu dengan meniru apa yang mereka lihat, bukan apa yang seharusnya mereka pahami.

Karena itu, peran orang tua menjadi kunci utama dalam merespons situasi ini. Pengawasan tidak cukup dimaknai sebagai pembatasan, melainkan pendampingan yang aktif dan konsisten. Orang tua perlu hadir dalam keseharian anak, memahami aktivitas mereka, serta membangun dialog yang terbuka dan setara. Pembatasan penggunaan gawai harus disertai penjelasan yang rasional agar anak memahami alasan di balik aturan, bukan sekadar mematuhinya secara terpaksa.

Baca Juga :  Kabupaten Pekalongan Gencarkan Program GERLAP ANTING untuk Tekan Stunting

Sekolah dan lingkungan masyarakat tidak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab ini. Sekolah berfungsi bukan hanya sebagai ruang transfer pengetahuan, tetapi juga arena pembentukan sikap dan nilai sosial.

Guru memiliki peran strategis dalam menanamkan disiplin, empati, dan etika pergaulan melalui keteladanan dan pendekatan pedagogis yang kontekstual. Sementara itu, lingkungan sekitar perlu memastikan ruang sosial yang aman, ramah anak, dan bebas dari praktik yang merusak perkembangan psikologis mereka.

Menjaga pergaulan anak sekolah dasar agar tetap sejalan dengan tahap usianya merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi prasyarat mutlak. Tanpa upaya kolektif dan kesadaran bersama, kekhawatiran hari ini berpotensi menjelma menjadi persoalan sosial yang lebih kompleks di masa depan.

Penulis : Yuni Eka Permatasari | Institut Tekonologi Muhammadiyah Sumatera

Editor : Fadli Akbar

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Belajar Berdamai dengan Diri melalui Evaluasi: Menelisik Medan Makna dalam Perspektif Semantik Makyun Subuki
Runtuhnya Dinding Kamus: Menilik Evolusi Bahasa Indonesia di Ruang Digital
Memilih Lingkaran Pertemanan, Kunci Keberhasilan Akademik Mahasiswa Perantau
Karier Guru yang Terhambat Mengancam Masa Depan Pendidikan Indonesia
Close Friends Instagram: Ruang Aman Generasi Z untuk Berkomunikasi dan Membangun Identitas Digital
Media Sosial dan Konsentrasi Belajar Mahasiswa, Menjaga Fokus di Tengah Arus Digital
Bangkit dari Trauma KDRT: Jalan Panjang Menuju Pemulihan yang Utuh
Mengintip Tren Baru Hukum Keluarga: Dari Perlindungan Aset hingga Perselingkuhan Digital

Berita Terkait

Selasa, 7 Juli 2026 - 22:45 WIB

Belajar Berdamai dengan Diri melalui Evaluasi: Menelisik Medan Makna dalam Perspektif Semantik Makyun Subuki

Selasa, 7 Juli 2026 - 22:30 WIB

Runtuhnya Dinding Kamus: Menilik Evolusi Bahasa Indonesia di Ruang Digital

Minggu, 5 Juli 2026 - 22:50 WIB

Memilih Lingkaran Pertemanan, Kunci Keberhasilan Akademik Mahasiswa Perantau

Minggu, 5 Juli 2026 - 22:48 WIB

Karier Guru yang Terhambat Mengancam Masa Depan Pendidikan Indonesia

Minggu, 5 Juli 2026 - 15:29 WIB

Close Friends Instagram: Ruang Aman Generasi Z untuk Berkomunikasi dan Membangun Identitas Digital

Berita Terbaru