Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung Pendidikan Geografi FKIP UNS Gelar Program KOMPAK untuk Perkuat Ecovillage di Desa Segorogunung

- Redaksi

Kamis, 11 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto bersama peserta dan mahasiswa Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung Pendidikan Geografi FKIP UNS. (Sumber: Dokumentasi Pribadi Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung)

Foto bersama peserta dan mahasiswa Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung Pendidikan Geografi FKIP UNS. (Sumber: Dokumentasi Pribadi Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung)

Karanganyar, Sorotnesia.com – Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung dari Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar pelatihan pengelolaan sampah organik berbasis rumah tangga melalui Program KOMPAK (Kompos Organik Masyarakat Produktif dan Berkelanjutan) di Aula Desa Segorogunung, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Senin (20/4/2026).

Kegiatan yang berlangsung melalui kolaborasi dengan Pemerintah Desa Segorogunung dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Karanganyar tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat konsep ecovillage sekaligus mendorong praktik pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan di tingkat masyarakat.

Pelatihan diikuti oleh warga, anggota Karang Taruna, perangkat desa, serta perwakilan DLH Kabupaten Karanganyar. Program ini hadir sebagai respons terhadap masih tingginya praktik pembakaran sampah organik yang dilakukan sebagian masyarakat karena dianggap lebih mudah dan praktis.

Padahal, pembakaran sampah terbuka berpotensi menimbulkan pencemaran udara serta berdampak pada kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan. Melalui program ini, peserta diajak memahami alternatif pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan dan bernilai ekonomi.

Desa Segorogunung sendiri memiliki potensi perkebunan yang cukup besar. Aktivitas tersebut menghasilkan berbagai jenis limbah organik, mulai dari daun kering, ranting, sisa panen, hingga buah yang tidak layak konsumsi. Namun, limbah tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal.

Melihat kondisi tersebut, Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung Pendidikan Geografi FKIP UNS menggagas Program KOMPAK sebagai sarana edukasi sekaligus pemberdayaan masyarakat. Program ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman warga mengenai pengelolaan sampah organik yang ramah lingkungan serta memberikan keterampilan praktis dalam mengolah limbah menjadi produk yang memiliki nilai guna.

Sambutan dari Kepala Desa Segorogunung. (Sumber: Dokumentasi Pribadi Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung)
Sambutan dari Kepala Desa Segorogunung. (Sumber: Dokumentasi Pribadi Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung)

Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala Desa Segorogunung, Tri Harjono. Ia menegaskan bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Pengelolaan sampah tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah desa. Dibutuhkan partisipasi seluruh masyarakat agar lingkungan tetap bersih dan sehat. Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi awal perubahan pola pengelolaan sampah di Desa Segorogunung,” ujarnya.

Sosialisasi oleh Pihak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karanganyar. (Sumber: Dokumentasi Pribadi Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung)
Sosialisasi oleh Pihak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karanganyar. (Sumber: Dokumentasi Pribadi Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung)

Setelah sambutan, peserta memperoleh materi sosialisasi dari Diana Cahya Ningrum, S.Si., perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karanganyar. Dalam pemaparannya, Diana menjelaskan dampak negatif pembakaran sampah terhadap lingkungan dan kesehatan, pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan, serta berbagai manfaat yang dapat diperoleh dari pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos.

Baca Juga :  Membuka Jalan Ekonomi Kreatif Sejak Dini, Mahasiswa UNISRI Dorong Siswa Desa Malangan Jadi Wirausahawan Cilik

Menurut Diana, sampah organik yang selama ini sering dianggap tidak bernilai justru memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan kembali.

“Sampah organik yang selama ini dianggap tidak bernilai sebenarnya dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat, seperti kompos dan pupuk cair organik. Melalui pengelolaan yang tepat, sampah dapat memberikan manfaat bagi lingkungan maupun masyarakat,” ujar Diana.

Peserta mengajukan pertanyaan kepada narasumber terkait pengelolaan sampah. (Sumber: Dokumentasi Pribadi Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung)
Peserta mengajukan pertanyaan kepada narasumber terkait pengelolaan sampah. (Sumber: Dokumentasi Pribadi Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung)

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Berbagai pertanyaan diajukan terkait teknik pengomposan, lama proses dekomposisi, penggunaan aktivator, hingga pemanfaatan kompos untuk mendukung produktivitas tanaman perkebunan.

Diskusi berlangsung interaktif karena sebagian besar peserta merupakan masyarakat yang sehari-hari beraktivitas di sektor pertanian dan perkebunan. Kondisi tersebut membuat materi yang disampaikan memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan warga di lapangan.

Tidak hanya mendapatkan materi teoritis, peserta juga mengikuti demonstrasi pembuatan pupuk kompos menggunakan metode sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan rumah tangga. Dalam sesi praktik, peserta diperkenalkan pada tahapan pemilahan sampah organik, pencacahan bahan, penyusunan media kompos, hingga penggunaan aktivator untuk mempercepat proses penguraian.

Demonstrasi pembuatan pupuk kompos. (Sumber: Dokumentasi Pribadi Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung)
Demonstrasi pembuatan pupuk kompos. (Sumber: Dokumentasi Pribadi Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung)

Pada kesempatan yang sama, Diana juga menjelaskan pemanfaatan maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai alternatif pengolahan sampah organik. Metode ini dinilai mampu mempercepat proses penguraian sekaligus membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di lingkungan.

Melalui pelatihan tersebut, masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada proses produksi kompos, tetapi juga pada pembuatan pupuk cair organik. Tim pelaksana turut memperkenalkan rancangan model usaha pengelolaan sampah berbasis ecopreneurship yang berpotensi menjadi peluang ekonomi baru bagi warga desa.

Baca Juga :  Mahasiswa KKN UNS 128 Gandeng BTN Solo Adakan Saku Pintar di SMP N 18 Surakarta

Model usaha tersebut diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk melihat sampah bukan sekadar limbah yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

Ketua Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung Pendidikan Geografi FKIP UNS, Aiyuhan Sorin, mengatakan bahwa Program KOMPAK sejak awal dirancang sebagai bentuk integrasi antara edukasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

“Melalui program ini, kami ingin mengajak masyarakat melihat sampah organik bukan sebagai limbah yang harus dibakar, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali dan memiliki nilai ekonomi. Dengan demikian, pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Aiyuhan, perubahan pola pikir masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan pengelolaan sampah berkelanjutan. Ketika warga memahami manfaat ekonomi dan lingkungan dari pengolahan sampah, maka praktik pembakaran sampah dapat ditekan secara bertahap.

Program KOMPAK juga menjadi contoh kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mendukung pembangunan berbasis lingkungan. Sinergi berbagai pihak tersebut dinilai penting untuk memastikan program yang dijalankan tidak berhenti pada tahap sosialisasi, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan di tingkat masyarakat.

Melalui pelatihan, praktik pengolahan sampah, serta pengembangan model usaha berbasis ecopreneurship, Desa Segorogunung diharapkan semakin siap mengembangkan konsep ecovillage yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga mampu memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

Ke depan, alternatif pengelolaan sampah yang diperkenalkan melalui Program KOMPAK diharapkan menjadi fondasi dalam mewujudkan desa yang bersih, produktif, dan berkelanjutan. Dengan meningkatnya kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah organik, upaya menjaga kualitas lingkungan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan warga.

Penulis : Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung Pendidikan Geografi FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS)

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pengabdian Masyarakat Lewat Sekolah Lansia Tangguh, Upaya Tingkatkan Kualitas Hidup Lansia di Sukolilo Surabaya
Kolaborasi Kelembagaan Jadi Ruang Belajar Mahasiswa Administrasi Negara Untag Surabaya
Diskusi Pancasila, UM Soroti Relevansi Trisakti di Tengah Dinamika Global
Dorong Pola Makan Sehat, Mahasiswa Departemen Pendidikan IPS UNY Dampingi Program GEBYUR
Dari Indonesia ke Singapura: Pengalaman Exchange Semester@NIE Mahasiswa Universitas Sebelas Maret di NIE/NTU Singapore
Kolaborasi UPITRA dan RS Mata Solo Dorong Integrasi Sistem Lewat Pelatihan API
Cegah Sejarah Desa Luntur, Mahasiswa KKN UNS Luncurkan Buku “Desa Geneng: Babat Alas dan Sejarah”
Tingkatkan Taraf Pendidikan di Lingkup Anak-Anak Sekolah Dasar, Mahasiswa KKN-T UNS Gelar Pelatihan dan Kompetisi Bahasa Inggris untuk Siswa SD di Desa Sanggrahan

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 19:15 WIB

Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung Pendidikan Geografi FKIP UNS Gelar Program KOMPAK untuk Perkuat Ecovillage di Desa Segorogunung

Kamis, 4 Juni 2026 - 16:00 WIB

Pengabdian Masyarakat Lewat Sekolah Lansia Tangguh, Upaya Tingkatkan Kualitas Hidup Lansia di Sukolilo Surabaya

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:55 WIB

Diskusi Pancasila, UM Soroti Relevansi Trisakti di Tengah Dinamika Global

Minggu, 17 Mei 2026 - 19:55 WIB

Dorong Pola Makan Sehat, Mahasiswa Departemen Pendidikan IPS UNY Dampingi Program GEBYUR

Rabu, 13 Mei 2026 - 11:44 WIB

Dari Indonesia ke Singapura: Pengalaman Exchange Semester@NIE Mahasiswa Universitas Sebelas Maret di NIE/NTU Singapore

Berita Terbaru

Ilustrasi

Opini

Perlukah Indonesia Memiliki Hukum Pailit Khusus UMKM?

Sabtu, 6 Jun 2026 - 20:03 WIB