Menunggu Sakit Parah Sebelum ke Dokter: Kebiasaan yang Perlu Diubah

- Redaksi

Jumat, 16 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

Seberapa parah seseorang harus merasakan sakit sebelum memutuskan pergi ke dokter? Bagi sebagian orang, rasa sakit yang masih bisa ditahan belum dianggap sebagai alasan yang cukup untuk memeriksakan diri. Selama masih mampu bekerja, belajar, dan menjalankan aktivitas sehari-hari, meskipun terganggu, kunjungan ke dokter kerap menjadi pilihan yang bisa ditunda.

Padahal, kebiasaan menunggu hingga kondisi memburuk berisiko membuat seseorang terlambat mengetahui masalah kesehatan yang dialaminya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025, sebanyak 71,57 persen penduduk yang mengalami keluhan kesehatan tetapi tidak berobat jalan memilih mengobati diri sendiri. Sementara itu, 26,15 persen merasa tidak perlu berobat. Data ini menunjukkan bahwa pengobatan mandiri dan anggapan bahwa keluhan belum membutuhkan penanganan medis masih menjadi bagian dari perilaku masyarakat.

Lantas, mengapa seseorang memilih menunda pemeriksaan?

Alasannya tidak selalu karena kurang peduli terhadap kesehatan. Bagi sebagian orang, biaya pengobatan menjadi pertimbangan utama. Ketakutan mengetahui hasil pemeriksaan atau pengalaman kurang menyenangkan ketika berobat juga dapat membuat seseorang berpikir dua kali sebelum kembali ke fasilitas kesehatan.

Akses yang terbatas turut menjadi kendala. Jarak yang jauh, transportasi yang tidak memadai, waktu tunggu, dan antrean panjang dapat mengurangi keinginan masyarakat untuk mencari pertolongan. Di sisi lain, muncul anggapan bahwa gejala ringan tidak memerlukan pemeriksaan. Pusing yang sesekali datang, batuk selama beberapa hari, atau nyeri yang masih bisa ditahan sering dianggap akan sembuh dengan sendirinya.

Masalahnya, tingkat keparahan penyakit tidak selalu sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan. Gejala yang tampak ringan belum tentu menunjukkan kondisi yang sederhana.

Baca Juga :  Membangkitkan Nilai Pancasila bagi Generasi Muda

Dampak Menunda Pemeriksaan

Ketika keluhan diabaikan, seseorang berisiko tidak mengetahui penyebab dan kondisi sebenarnya. Pemeriksaan baru dilakukan setelah gejala semakin mengganggu atau kondisi memburuk. Akibatnya, penyakit tertentu dapat terlambat terdeteksi sehingga penanganan tidak segera diberikan.

Menurut WHO Indonesia, sekitar 70 persen kasus kanker serviks di Indonesia baru terdiagnosis pada stadium akhir, ketika pengobatan menjadi kurang efektif. Angka tersebut menegaskan pentingnya deteksi dini, terutama karena beberapa penyakit tidak selalu menunjukkan gejala yang jelas pada tahap awal.

Jika penyakit berkembang lebih jauh, penanganannya dapat menjadi lebih kompleks. Kondisi ini memang tidak berlaku untuk semua penyakit, tetapi menunjukkan bahwa keluhan yang menetap atau memburuk tidak seharusnya terus diabaikan.

Persoalan penundaan pemeriksaan bukan sekadar rasa sakit yang semakin berat. Ada kesempatan untuk mengenali masalah kesehatan lebih awal yang mungkin terlewatkan.

Namun, bukan berarti setiap keluhan kecil harus langsung ditangani dokter. Sejumlah keluhan ringan memang dapat membaik melalui istirahat dan perawatan mandiri. Hal yang lebih penting adalah kemampuan mengenali batas antara keluhan yang dapat dipantau dan kondisi yang membutuhkan pertolongan medis.

Mengenali Sinyal Tubuh

Perubahan kondisi tubuh perlu diperhatikan. Ketika gejala tidak kunjung membaik, terus berulang, atau semakin berat, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan merupakan langkah yang patut dipertimbangkan. Orang dengan riwayat penyakit tertentu juga perlu lebih waspada karena kebutuhan pemeriksaan dapat berbeda sesuai kondisi kesehatannya.

Pergi ke dokter seharusnya tidak selalu menunggu sampai rasa sakit tidak tertahankan. Keputusan mencari pertolongan perlu mempertimbangkan perubahan gejala, lamanya keluhan berlangsung, serta dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari.

Baca Juga :  Puskesmas Kedungwuni II Hadirkan NESSIA untuk Tingkatkan Layanan Ramah Lansia

Sikap ini membantu kita menghindari dua hal sekaligus: bereaksi berlebihan terhadap setiap keluhan dan mengabaikan sinyal tubuh yang membutuhkan perhatian.

Literasi Kesehatan sebagai Kunci

Di sinilah literasi kesehatan berperan penting. Literasi kesehatan bukan sekadar kemampuan mengenali nama penyakit, melainkan juga kemampuan mencari, memahami, dan menggunakan informasi kesehatan untuk mengambil keputusan yang tepat.

Masyarakat dengan literasi kesehatan yang baik diharapkan mampu mengenali kapan perlu mencari pertolongan medis dan tidak mudah terpengaruh informasi yang tampak meyakinkan, tetapi tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Informasi dari internet, misalnya, dapat menjadi sumber pengetahuan awal, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan dan diagnosis tenaga medis.

Mengubah kebiasaan menunda pemeriksaan tentu bukan perkara mudah. Ungkapan seperti “nanti juga sembuh sendiri” atau “tidak perlu ke dokter, masih bisa ditahan” terdengar sederhana dan sering dianggap wajar. Namun, jika terus dijadikan alasan, keluhan kesehatan berisiko diabaikan berulang kali sampai kondisinya semakin mengganggu.

Persoalannya bukan semata-mata seberapa parah rasa sakit yang harus dialami sebelum seseorang pergi ke dokter. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa kesehatan baru mendapat perhatian ketika tubuh tidak lagi mampu menanggung keluhannya.

Menjaga kesehatan tidak selalu berarti segera mencari pertolongan untuk setiap gejala. Yang diperlukan adalah kewaspadaan, informasi yang tepat, dan keberanian mengambil keputusan sebelum masalah berkembang menjadi lebih serius.

Penulis : Trianka Zahra Herviani, Terapi Okupasi / Poltekes Kemenkkes Surakarta

Editor : Intan Permata

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Karawang Makin Dipenuhi Pabrik, Bagaimana Nasib Sawahnya?
Dari Kafe Kembali ke Kampus: Memanfaatkan Ruang Belajar yang Sering Terlupakan
Mahasiswa Organisasi dan Seni Mengatur Waktu: Menjaga Keseimbangan antara Kuliah, Tanggung Jawab, dan Kehidupan Pribadi
Guru di Tengah Deras Arus Iptek dan Abu-Abunya Zaman yang Selalu Menjaga Hati dan Karakter Siswa dengan 7 Jurus Hebat
Gen Z di Ruang Publik Digital, Menjaga Partisipasi di Tengah Kendali Algoritma TikTok
Kesetaraan Gender dalam Olahraga, Mewujudkan Kesempatan yang Sama dari Lapangan hingga Podium
Belajar Berdamai dengan Diri melalui Evaluasi: Menelisik Medan Makna dalam Perspektif Semantik Makyun Subuki
Runtuhnya Dinding Kamus: Menilik Evolusi Bahasa Indonesia di Ruang Digital

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 19:03 WIB

Menunggu Sakit Parah Sebelum ke Dokter: Kebiasaan yang Perlu Diubah

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:30 WIB

Karawang Makin Dipenuhi Pabrik, Bagaimana Nasib Sawahnya?

Senin, 5 Oktober 2026 - 22:36 WIB

Dari Kafe Kembali ke Kampus: Memanfaatkan Ruang Belajar yang Sering Terlupakan

Kamis, 30 Juli 2026 - 20:07 WIB

Guru di Tengah Deras Arus Iptek dan Abu-Abunya Zaman yang Selalu Menjaga Hati dan Karakter Siswa dengan 7 Jurus Hebat

Kamis, 23 Juli 2026 - 13:37 WIB

Gen Z di Ruang Publik Digital, Menjaga Partisipasi di Tengah Kendali Algoritma TikTok

Berita Terbaru

Ilustrasi sawah dan industri

Opini

Karawang Makin Dipenuhi Pabrik, Bagaimana Nasib Sawahnya?

Minggu, 11 Okt 2026 - 20:30 WIB