Membedah Majas dalam Lagu “The Man Who Can’t Be Moved” karya The Script

- Redaksi

Selasa, 3 November 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumber: Tangkapan layar youtube.com

Sumber: Tangkapan layar youtube.com

Bayangkan seorang pria asing duduk di sudut jalan dengan kantong tidur dan selembar kardus. Para pejalan kaki berlalu-lalang. Sebagian merasa iba, sebagian lainnya penasaran, sementara beberapa orang menjatuhkan uang koin di dekatnya. Kebanyakan orang mungkin mengira pria itu sedang mengalami kesulitan ekonomi. Namun, anggapan tersebut keliru. Ia bukan sedang meminta uang, melainkan menunggu seseorang yang pernah mengisi hidupnya.

Ketika The Script merilis lagu The Man Who Can’t Be Moved pada 2008, karya tersebut dengan cepat menjadi salah satu balada patah hati yang dikenal luas. Banyak pendengar menikmatinya sebagai lagu tentang kesetiaan dan kerinduan. Namun, di balik melodi yang mudah diingat, tersimpan permainan bahasa yang menarik untuk dikaji. Liriknya memperlihatkan bagaimana perangkat sastra dapat menghidupkan emosi melalui pilihan kata, gambaran visual, pengulangan, dan ungkapan berlebihan.

Setidaknya ada empat unsur yang menonjol dalam lagu ini, yakni diksi, citraan, repetisi, dan hiperbola. Keempatnya bekerja bersama untuk mengubah kisah sederhana tentang seorang pria yang menunggu menjadi gambaran tentang cinta, kehilangan, dan harapan yang sulit dilepaskan.

Salah satu bagian paling menarik dalam lirik lagu ini muncul melalui permainan kata. Ketika orang-orang yang melintas mencoba memberinya uang, sang narator menjelaskan, “I’m not broke, I’m just a broken hearted man.”

Permainan kata tersebut sederhana, tetapi memiliki daya emosional yang kuat. Kata broke dan broken memiliki akar kata yang sama dan terdengar mirip, tetapi merujuk pada dua kondisi berbeda. Broke menggambarkan keadaan tidak memiliki uang, sedangkan broken dalam konteks ini merujuk pada hati yang terluka.

Perbedaan tersebut menjadi inti pesan lagu. Kemiskinan materi mungkin dapat dibantu dengan uang, tetapi luka emosional tidak bisa disembuhkan hanya dengan pemberian orang asing. Melalui dua kata itu, sang narator membedakan apa yang terlihat oleh orang lain, yakni seorang pria dengan kantong tidur dan papan kardus, dari kenyataan yang sebenarnya ia alami, yaitu kehilangan seseorang yang dicintainya.

Di sinilah diksi bekerja lebih dari sekadar menyampaikan informasi. Sang narator sedang meluruskan kesalahpahaman sekaligus memperlihatkan bagaimana penderitaan yang tidak terlihat sering kali disalahartikan. Ia tidak membutuhkan belas kasihan dalam bentuk uang karena persoalan yang dihadapinya jauh lebih rumit.

Permainan makna serupa muncul dalam baris “There are no holes in his shoes but a big hole in his world.” Sepatunya tidak berlubang, tetapi dunianya terasa memiliki lubang besar. Kata hole yang secara harfiah berarti lubang digunakan untuk menggambarkan kekosongan emosional akibat kehilangan seseorang.

Pilihan kata sederhana seperti “Gonna camp” dan “got some words on cardboard” juga memperkuat karakter narator. Bahasanya terasa lugas dan tidak dibuat-buat. Seolah-olah ia sudah tidak memiliki tenaga untuk menyusun kalimat yang indah. Justru kesederhanaan tersebut membuat kerentanannya terasa lebih nyata.

Jika diksi memperlihatkan bagaimana perasaan sang narator, citraan atau imaji membantu pendengar membayangkan situasi yang sedang dialaminya.

Lagu ini dibuka dengan kalimat “Going back to the corner where I first saw you.” Sudut jalan yang disebutkan bukan sekadar latar tempat. Ia menjadi ruang yang menyimpan kenangan tentang awal pertemuan sekaligus tempat sang narator berharap dapat bertemu kembali dengan perempuan yang dicintainya.

Gambaran tersebut diperkuat melalui baris “I’ll camp in my sleeping bag.” Kantong tidur yang biasanya digunakan saat berkemah kini hadir di trotoar kota. Benda yang seharusnya menjadi perlengkapan perjalanan itu justru menggambarkan kehidupan seseorang yang mulai meninggalkan kebiasaan normalnya demi sebuah penantian.

Baca Juga :  Etika Profesi Advokat: Pilar Integritas dalam Sistem Hukum Indonesia

Citraan visual semakin kuat ketika sang narator menyebut, “Got some words on cardboard, got your picture in my hand.” Papan kardus dan foto menjadi dua benda sederhana yang mewakili kerinduannya. Tulisan di atas kardus seolah menjadi pesan terbuka kepada siapa pun yang melintas, sementara foto di tangannya menjadi pengingat tentang orang yang sedang ia tunggu.

Keduanya membentuk gambaran yang mudah dibayangkan: seorang pria duduk di sudut jalan, memegang foto seseorang, dan berharap orang tersebut suatu hari melihatnya.

Menariknya, lagu ini kemudian memperluas gambaran tersebut melalui kalimat “your heart starts to wonder where on this Earth I could be.” Sudut pandang bergeser dari jalanan tempat sang narator menunggu menuju dunia luas yang mungkin sedang dijelajahi perempuan itu.

Frasa “on this Earth” memberikan kesan jarak yang begitu besar. Sang narator tetap berada di satu tempat, sedangkan perempuan yang dicintainya mungkin berada di belahan dunia lain. Kontras antara seseorang yang memilih menetap dan orang lain yang terus bergerak menjadi salah satu sumber kesedihan dalam lagu ini.

Salah satu bagian yang paling mudah diingat dari lagu ini adalah pengulangan kalimat “So I’m not moving, I’m not moving.” Kalimat tersebut muncul berkali-kali, terutama pada bagian refrain, sehingga menjadi pernyataan utama yang terus melekat di benak pendengar.

Dalam karya sastra, repetisi atau pengulangan dapat digunakan untuk menegaskan gagasan, membangun irama, dan memperkuat emosi. Fungsi tersebut terlihat jelas dalam lagu ini. Setiap pengulangan kalimat “I’m not moving” seolah menjadi usaha sang narator untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak akan meninggalkan tempat itu.

Pada awalnya, kalimat tersebut terdengar seperti sebuah keputusan. Namun, ketika terus diulang, maknanya berkembang menjadi semacam sumpah. Menjelang akhir lagu, pengulangan itu bahkan terasa seperti mantra yang menggambarkan pikiran seseorang yang terus berputar pada satu hal.

Judul lagu The Man Who Can’t Be Moved juga menarik untuk diperhatikan. Ada perbedaan makna antara “I’m not moving” dan “can’t be moved”. Kalimat pertama menunjukkan kehendak atau pilihan untuk tidak bergerak, sedangkan kalimat kedua menyiratkan ketidakmampuan untuk berpindah.

Perubahan tersebut menghadirkan ambiguitas. Apakah sang narator benar-benar memilih untuk tetap menunggu, atau justru sudah tidak sanggup meninggalkan kenangan masa lalunya? Lagu ini tidak memberikan jawaban pasti. Justru ketidakjelasan itu menggambarkan keadaan seseorang yang sedang patah hati, ketika keputusan untuk bertahan dan ketidakmampuan untuk melepaskan sering kali sulit dibedakan.

Repetisi juga muncul melalui pola pengandaian pada bagian “’Cause if one day you wake up and find that you’re missing me.” Kata if atau “jika” menjadi penanda bahwa harapan sang narator bergantung pada kemungkinan perempuan tersebut suatu hari merindukannya.

Bagian penutup yang kembali mengulang kalimat pembuka, “Going back to the corner where I first saw you,” memperkuat kesan bahwa cerita ini bergerak dalam sebuah lingkaran. Lagu kembali ke tempat yang sama, seolah tidak ada perubahan dalam kehidupan sang narator. Ia masih menunggu, dengan harapan yang belum menemukan kepastian.

Patah hati tidak selalu berjalan seiring dengan logika. Seseorang yang sedang kehilangan bisa mempertahankan harapan meskipun peluangnya semakin kecil. Perasaan semacam itu tergambar melalui penggunaan hiperbola dalam lagu ini.

Baca Juga :  Green Economy dimulai dari Sawah: Mengenal Agroindustri Hijau yang Menyelamatkan Masa Depan

Ketika seorang polisi memintanya meninggalkan tempat tersebut, sang narator menjawab bahwa ia akan tetap menunggu, “if it’s a day, a month, a year.” Urutan waktu dari satu hari, satu bulan, hingga satu tahun menunjukkan komitmen yang dilebih-lebihkan. Ia tidak sedang menentukan batas waktu penantian, tetapi ingin menegaskan bahwa tidak ada tenggat yang sanggup membuatnya menyerah.

Ungkapan berlebihan juga terlihat pada baris “Gotta stand my ground even if it rains or snows.” Hujan dan salju digunakan untuk menggambarkan berbagai kesulitan yang mungkin harus dihadapinya. Apa pun kondisinya, ia tetap ingin bertahan di tempat tersebut.

Kata ground juga menarik karena dapat dikaitkan dengan istilah pertahanan atau medan pertempuran. Menunggu seseorang digambarkan seolah-olah menjadi perjuangan yang harus dipertahankan. Penantian yang sebenarnya pasif pun terasa seperti sebuah perlawanan terhadap keadaan.

Hiperbola berikutnya muncul ketika sang narator membayangkan dirinya menjadi terkenal melalui kalimat “Maybe I’ll get famous as the man who can’t be moved.” Ia bahkan membayangkan kemungkinan muncul dalam pemberitaan melalui baris “Maybe you won’t mean to, but you’ll see me on the news.”

Bayangan tersebut terdengar berlebihan, tetapi justru memperlihatkan kedalaman keputusasaannya. Ia tidak benar-benar menginginkan ketenaran. Ia hanya ingin ditemukan oleh perempuan yang dicintainya. Jika cara biasa tidak berhasil, ia membayangkan dirinya menjadi sosok yang dikenal banyak orang agar perempuan itu dapat melihatnya.

Hiperbola dalam bagian ini bukan sekadar ungkapan dramatis. Ia menjadi gambaran tentang bagaimana seseorang dapat membesar-besarkan harapan ketika sedang berada dalam kondisi emosional yang sulit. Pendengar mungkin memahami bahwa tidak masuk akal menunggu selama setahun dalam segala kondisi cuaca. Namun, mereka tetap dapat merasakan mengapa sang narator ingin melakukan hal tersebut.

Kekuatan The Man Who Can’t Be Moved tidak terletak pada kerumitan ceritanya, melainkan pada ketepatan penggunaan bahasa. Diksi memperlihatkan perbedaan antara broke dan broken. Citraan menghadirkan seorang pria di trotoar dengan foto dan papan kardus. Repetisi mengubah kalimat “I’m not moving” menjadi pernyataan yang terus menggema, sedangkan hiperbola menggambarkan kesetiaan yang melampaui batas kewajaran.

Keempat perangkat tersebut bekerja secara bersamaan untuk membangun sosok narator yang mengundang simpati sekaligus menyimpan sisi tragis. Pendengar dapat memahami keteguhan hatinya, tetapi pada saat yang sama mungkin menyadari bahwa penantian tersebut justru menghalanginya untuk pulih.

Lagu ini tidak pernah memberikan kepastian apakah perempuan yang ditunggu akhirnya kembali. Pilihan tersebut membuat ceritanya terasa terbuka. Pendengar dibiarkan berada di sudut jalan yang sama, terjebak di antara harapan dan kemungkinan bahwa semua penantian itu tidak akan menghasilkan apa-apa.

Barangkali itulah salah satu alasan lagu ini tetap menarik untuk didengarkan dan dibahas. Banyak orang pernah bertahan terlalu lama pada kenangan, tempat, atau hubungan yang dahulu memiliki arti penting dalam hidup mereka. Ada harapan untuk ditemukan kembali, meskipun waktu terus berjalan dan keadaan telah berubah.

The Man Who Can’t Be Moved mengambil perasaan universal tersebut, lalu menghadirkannya melalui gambaran sederhana tentang kantong tidur, sebuah foto, dan sudut jalan. Melalui permainan diksi, citraan, repetisi, dan hiperbola, The Script menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi menyampaikan cerita. Bahasa juga mampu membuat pendengar merasakan kehilangan, memahami kerinduan, dan melihat sisi manusiawi dari seseorang yang belum sanggup beranjak dari masa lalunya.

Penulis : Aelia Azura Sajjad

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Chat Tak Terbalas, Mengapa Kita Merasa Diabaikan?
Di Balik Bilik Plastik dan Stigma Publik: Beban Ganda dan Dilema Perempuan Berdaya
Upaya Penanggulangan Tindak Pidana yang Melibatkan Anak dalam Perspektif Kebijakan Kriminal
Menyingkap Makna #HidupPerempuanYangMelawan dalam Kasus Hanni NewJeans
Politik Bukan Sekadar Pemilu: Mengapa Generasi Muda Perlu Peduli?
Bukan Apatis, tetapi Kecewa: Politik Uang dan Runtuhnya Kepercayaan Gen Z terhadap Demokrasi
Jakarta Barat Terombang-ambing: Banjir Berulang, Solusi Tak Kunjung Tuntas
Ketika Fatwa Syariah Masuk ke Ranah Konstitusi, Siapa yang Berwenang?

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 14:25 WIB

Membedah Majas dalam Lagu “The Man Who Can’t Be Moved” karya The Script

Senin, 2 November 2026 - 22:04 WIB

Chat Tak Terbalas, Mengapa Kita Merasa Diabaikan?

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Di Balik Bilik Plastik dan Stigma Publik: Beban Ganda dan Dilema Perempuan Berdaya

Minggu, 25 Oktober 2026 - 22:48 WIB

Upaya Penanggulangan Tindak Pidana yang Melibatkan Anak dalam Perspektif Kebijakan Kriminal

Selasa, 20 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Menyingkap Makna #HidupPerempuanYangMelawan dalam Kasus Hanni NewJeans

Berita Terbaru

Ilustrasi create by AI

Opini

Ketika Candaan Menjadi Alat Penyebar Hoaks

Selasa, 3 Nov 2026 - 07:07 WIB

Ilustrasi create by AI

Esai

Chat Tak Terbalas, Mengapa Kita Merasa Diabaikan?

Senin, 2 Nov 2026 - 22:04 WIB