Pengaruh Cyberbullying di Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Remaja

- Redaksi

Selasa, 3 November 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Bersama Lawan Cyberbullying

Ilustrasi Bersama Lawan Cyberbullying

Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, terutama remaja. Platform seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan WhatsApp dimanfaatkan untuk berkomunikasi, mencari informasi, belajar, menikmati hiburan, hingga membagikan aktivitas sehari-hari. Jika digunakan secara bijak, media sosial dapat memberikan banyak manfaat. Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat risiko yang perlu mendapat perhatian serius, salah satunya cyberbullying atau perundungan digital.

Cyberbullying merupakan tindakan menyakiti, mempermalukan, mengancam, atau merendahkan seseorang melalui teknologi digital. Bentuknya beragam, mulai dari komentar menghina, penyebaran foto atau informasi pribadi tanpa izin, pesan bernada ancaman, penyebaran rumor, hingga pengucilan dalam kelompok pertemanan daring. Perundungan digital dapat berlangsung berulang kali dan menjangkau banyak orang dalam waktu singkat. Akibatnya, korban tidak selalu memiliki ruang aman untuk menghindari tekanan tersebut.

Remaja menjadi kelompok yang rentan karena media sosial memiliki peran besar dalam kehidupan sosial mereka. Platform digital digunakan untuk berinteraksi dengan teman, mengikuti tren, mencari informasi, mengerjakan tugas, dan mengisi waktu luang. Intensitas penggunaan yang tinggi memang tidak otomatis menyebabkan seseorang menjadi korban perundungan. Namun, semakin sering remaja beraktivitas di ruang digital, semakin besar pula peluang mereka berhadapan dengan komentar kasar, konten negatif, perbandingan sosial, maupun perilaku perundungan.

Dampak cyberbullying tidak dapat dianggap sepele. Korban dapat mengalami kesedihan, rasa malu, ketakutan, kemarahan, dan tekanan psikologis. Komentar negatif yang diterima secara terus-menerus berpotensi menurunkan rasa percaya diri serta menimbulkan perasaan tidak diterima oleh lingkungan sosial. Sebagian korban bahkan menjadi enggan membuka media sosial, membaca komentar, atau berinteraksi dengan orang lain karena khawatir kembali mengalami perlakuan serupa.

Tekanan tersebut juga dapat memengaruhi kondisi fisik. Gangguan psikologis dapat berkaitan dengan kesulitan tidur, kelelahan, sakit kepala, perubahan pola makan, hingga menurunnya konsentrasi. Kondisi ini dapat menghambat kegiatan belajar dan aktivitas sehari-hari. Karena itu, cyberbullying tidak semestinya dipandang sebagai candaan atau persoalan sepele di internet. Dampaknya dapat meluas dari kehidupan digital ke kesehatan mental, kondisi fisik, dan hubungan sosial remaja.

Baca Juga :  Kehilangan Konsentrasi Anak Akibat Gadget: Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Penanganan persoalan ini membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah dan lembaga terkait, khususnya yang bergerak di bidang komunikasi, pendidikan, perlindungan anak, dan kesehatan, perlu memperkuat edukasi mengenai keamanan serta etika beraktivitas di ruang digital. Sosialisasi tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga perlu membangun pemahaman tentang tanggung jawab, perlindungan data pribadi, dan konsekuensi dari tindakan yang dilakukan di internet.

Sekolah memiliki peran strategis dalam membangun literasi digital sejak dini. Siswa perlu memahami cara mengenali perundungan digital, menjaga privasi, memeriksa kebenaran informasi, serta menggunakan fitur pelaporan ketika menemukan konten atau perilaku yang merugikan. Sekolah juga perlu menciptakan lingkungan yang membuat korban merasa aman untuk bercerita dan memperoleh bantuan tanpa takut disalahkan.

Di sisi lain, platform media sosial perlu meningkatkan perlindungan terhadap penggunanya. Fitur pelaporan, pemblokiran, pembatasan interaksi, dan moderasi konten harus mudah diakses serta ditangani secara bertanggung jawab. Perlindungan tidak boleh hanya dibebankan kepada pengguna, terutama remaja yang belum sepenuhnya memahami risiko di ruang digital.

Keluarga juga memegang peranan penting. Orang tua sebaiknya tidak hanya membatasi atau melarang penggunaan media sosial, tetapi membangun komunikasi terbuka agar anak merasa nyaman menceritakan pengalaman yang tidak menyenangkan. Pendampingan diperlukan untuk membantu remaja mengenali risiko, mengatur waktu penggunaan perangkat, dan membedakan interaksi yang sehat dengan perilaku yang mengarah pada perundungan.

Baca Juga :  Dampak Media Sosial Terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat

Lingkungan pertemanan tidak kalah penting. Remaja perlu memahami bahwa ikut menyebarkan komentar menghina, membagikan konten yang mempermalukan seseorang, atau membiarkan perundungan berlangsung dapat memperburuk keadaan korban. Ketika menyaksikan cyberbullying, mereka dapat menunjukkan dukungan kepada korban, tidak ikut menyebarkan konten tersebut, dan melaporkannya kepada pihak yang dipercaya.

Remaja sendiri perlu membangun kebiasaan bermedia sosial secara bertanggung jawab. Mengatur waktu penggunaan perangkat, menghindari media sosial ketika sedang belajar atau menjelang tidur, serta menyediakan waktu untuk berolahraga, membaca, dan berinteraksi langsung dapat membantu menjaga keseimbangan aktivitas. Mereka juga perlu berpikir sebelum mengunggah sesuatu atau menulis komentar. Kebebasan berpendapat di internet tetap harus disertai kesadaran bahwa setiap perkataan dapat berdampak pada orang lain.

Jika menjadi korban cyberbullying, remaja tidak perlu menghadapinya sendirian. Mereka dapat menyimpan bukti perundungan, memblokir atau membatasi akun pelaku, memanfaatkan fitur pelaporan, serta meminta bantuan orang tua, guru, atau orang dewasa yang dipercaya. Apabila tekanan psikologis mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, dukungan tenaga profesional juga perlu dipertimbangkan.

Media sosial tidak harus dijauhi karena teknologi digital telah menjadi bagian penting dari kehidupan modern. Persoalan utamanya terletak pada bagaimana ruang digital digunakan dan sejauh mana penggunanya terlindungi. Cyberbullying perlu ditangani melalui kerja sama pemerintah, sekolah, keluarga, lingkungan pertemanan, dan platform digital. Remaja berhak mendapatkan ruang digital yang aman, tempat mereka dapat belajar, berkomunikasi, dan berkembang tanpa dihantui ancaman perundungan. Membangun ruang tersebut bukan hanya tanggung jawab korban, melainkan tanggung jawab bersama.

Penulis : Fahri Akbar Priyatno | mahasiswa Terapi Okupasi Poltekkes Surakarta

Editor : Fadli Akbar

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemimpin Bukan Sekadar Memberi Perintah, tetapi Membangun Kepercayaan
Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah
Belajar Bahwa Tidak Apa-Apa untuk Tidak Baik-Baik Saja
Ketika Candaan Menjadi Alat Penyebar Hoaks
Di Balik Bilik Plastik dan Stigma Publik: Beban Ganda dan Dilema Perempuan Berdaya
Hak atas Udara Bersih: Menuntut Ketegasan Kawasan Tanpa Rokok di Kampus
Dinamika Duka dan Apresiasi Penggemar: Dampak Keputusan Mark Lee terhadap Fandom NCTzen
Patriarki dalam Kehidupan Sehari-hari: Ketika Ketimpangan Gender Dianggap Normal

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 21:10 WIB

Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

Rabu, 4 November 2026 - 11:00 WIB

Belajar Bahwa Tidak Apa-Apa untuk Tidak Baik-Baik Saja

Selasa, 3 November 2026 - 21:21 WIB

Pengaruh Cyberbullying di Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Remaja

Selasa, 3 November 2026 - 07:07 WIB

Ketika Candaan Menjadi Alat Penyebar Hoaks

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Di Balik Bilik Plastik dan Stigma Publik: Beban Ganda dan Dilema Perempuan Berdaya

Berita Terbaru