Sumberdem, Sorotnesia.com – Potensi bambu di Kampung Deling, Desa Sumberdem, dikembangkan menjadi sarana pendukung kawasan wisata. Mahasiswa KKN 179 Universitas Sebelas Maret (UNS) memanfaatkan bambu sebagai bahan utama untuk membuat tong sampah dan papan penunjuk jalan.
Program tersebut menjadi bagian dari kegiatan bertajuk “Pengembangan Sarana Wisata Berbasis Bambu melalui Kemitraan Berkelanjutan untuk Mendukung Ekonomi Kreatif Lokal Kampung Deling di Desa Sumberdem”.
Kegiatan itu diarahkan untuk menghubungkan potensi bahan lokal dengan kebutuhan fasilitas di kawasan wisata. Bambu dipilih karena merupakan salah satu sumber daya yang tersedia di Kampung Deling dan dapat diolah menjadi berbagai produk fungsional.
Pemanfaatan bambu tidak hanya dilihat dari sisi bahan baku. Pengolahannya juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi lokal sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN 179 UNS melalui sejumlah tahapan sebelum sarana ditempatkan di kawasan wisata. Proses tersebut dimulai dari persiapan bahan, perancangan bentuk, hingga pembuatan sarana secara bertahap.
Dua sarana yang dihasilkan dalam program tersebut adalah tong sampah berbahan bambu dan papan penunjuk jalan.
Tong sampah dibuat untuk mendukung kebutuhan kebersihan kawasan wisata. Penggunaan bambu sebagai material diharapkan membuat sarana tersebut tetap selaras dengan karakter lingkungan Kampung Deling yang mengangkat potensi bambu sebagai salah satu kekayaan lokal.
Selain berfungsi sebagai tempat pembuangan sampah, keberadaan tong sampah juga menjadi bagian dari penataan fasilitas kawasan. Sarana sederhana tersebut ditempatkan pada titik yang telah ditentukan agar dapat digunakan oleh masyarakat maupun pengunjung.
Sementara itu, bambu juga dimanfaatkan untuk membuat papan penunjuk jalan. Sarana tersebut memiliki fungsi sebagai informasi sekaligus penunjuk arah bagi pengguna kawasan wisata.

Papan penunjuk jalan diharapkan dapat membantu pengunjung mengenali arah dan akses menuju sejumlah titik di kawasan Kampung Deling. Dengan begitu, fasilitas yang dibuat tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga memberikan fungsi langsung bagi aktivitas di lapangan.
Proses pembuatan kedua sarana dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan bentuk dan fungsi masing-masing. Tahapan tersebut membutuhkan waktu yang cukup panjang karena bambu harus dipersiapkan dan diolah sesuai kebutuhan.

Proses itu sekaligus menunjukkan bahwa pemanfaatan bahan lokal membutuhkan perencanaan agar produk yang dihasilkan dapat digunakan secara optimal. Bambu yang sebelumnya menjadi potensi alam kemudian diolah menjadi sarana yang mendukung kebutuhan kawasan wisata.
Tahap akhir kegiatan dilaksanakan pada 18 Agustus 2026 pada pagi hari. Sarana yang telah selesai dibuat dibawa ke lokasi Kampung Deling untuk ditempatkan dan dipasang.
Tong sampah ditempatkan pada titik yang telah ditentukan. Adapun papan penunjuk jalan dipasang sebagai sarana informasi dan penunjuk arah bagi masyarakat serta pengunjung.
Penempatan kedua fasilitas tersebut menjadi tahap penting dalam program karena menandai pemanfaatan hasil kerja secara langsung. Produk berbahan bambu yang dibuat mahasiswa tidak berhenti sebagai hasil kegiatan, tetapi digunakan untuk menunjang kebutuhan kawasan wisata.
Melalui program tersebut, mahasiswa KKN 179 UNS berharap pemanfaatan potensi bambu lokal dapat memberikan manfaat bagi Desa Sumberdem, khususnya Kampung Deling. Pengembangan sarana wisata juga diharapkan dapat mendorong masyarakat melihat bahan lokal sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk fungsional.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara potensi lingkungan dan kebutuhan pengembangan kawasan wisata. Penggunaan bambu sebagai material sarana memberikan pilihan yang sesuai dengan karakter lokal sekaligus membuka ruang bagi pengembangan produk berbasis bahan yang tersedia di sekitar masyarakat.
Pembuatan dan pemasangan tong sampah serta papan penunjuk jalan pada 18 Agustus 2026 menjadi salah satu bentuk pemanfaatan potensi lokal secara langsung. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung penataan Kampung Deling sekaligus menjadi bagian dari pengembangan wisata dan ekonomi kreatif berbasis potensi desa secara berkelanjutan.









