Lebih Oke Mana? Serat dari Makanan atau dari Suplemen?

- Redaksi

Jumat, 19 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Berbagai sumber serat alami seperti buah, sayur, kacang, dan biji-bijian terbukti mampu menjaga kesehatan pencernaan sekaligus memberikan asupan vitamin dan mineral penting bagi tubuh. Sumber: Saka.co.id

Berbagai sumber serat alami seperti buah, sayur, kacang, dan biji-bijian terbukti mampu menjaga kesehatan pencernaan sekaligus memberikan asupan vitamin dan mineral penting bagi tubuh. Sumber: Saka.co.id

Kita semua udah tau dong kalau serat itu penting banget buat kesehatan tubuh, terutama untuk sistem pencernaan. Serat sendiri adalah bagian dari makanan nabati yang nggak bisa dicerna tubuh, tapi justru membantu “membersihkan” usus.

Menurut World Health Organization (WHO), kebutuhan serat harian idealnya sekitar 25–30 gram per hari. Gampangnya, kamu bisa dapetin itu dari beberapa buah pir, semangkuk oatmeal, plus tambahan sayur dalam menu sehari-hari.

Sumber serat alami sebenarnya gampang banget ditemuin. Ada di buah, sayur, kacang-kacangan, sampai biji-bijian. Dan serunya, serat dari makanan biasanya nggak datang sendirian, tapi barengan sama “bonus” lain kayak vitamin, mineral, antioksidan, dan zat gizi penting lainnya. Jadi sekali makan, manfaatnya banyak banget!

Nah, masalahnya, nggak semua orang bisa atau mau rutin makan serat alami. Kesibukan, pola makan yang nggak seimbang, sampai rasa “mager” makan sayur atau buah bikin asupan serat sering kali kurang. Akhirnya, banyak orang lebih milih suplemen serat karena dianggap lebih praktis. Pertanyaannya, lebih oke mana: makan langsung dari buah dan sayuran, atau cukup minum suplemen?

Baca Juga :  Perubahan Kurikulum Pendidikan di Indonesia

Suplemen serat biasanya hadir dalam bentuk bubuk, kapsul, atau tablet. Kandungan utamanya tetap serat, tapi tanpa vitamin, mineral, atau antioksidan tambahan seperti yang ada di buah dan sayuran. Suplemen ini bisa jadi penyelamat buat orang yang susah makan sayur, buah, atau punya kondisi kesehatan tertentu.

Tapi, penting diingat nih: suplemen itu cuma “pelengkap”, bukan pengganti makanan bergizi. Kalau kebanyakan ngandelin suplemen, tubuh bisa kehilangan banyak manfaat gizi alami yang seharusnya didapet dari makanan utuh.

Jadi, kalau bisa pilih, tentu serat dari pangan alami jauh lebih oke dibandingkan suplemen. Selain lebih alami, serat dari buah, sayur, kacang, dan biji-bijian punya kandungan gizi lengkap yang nggak bisa ditiru suplemen. Suplemen boleh aja dipakai, tapi posisinya sebagai cadangan ketika kita bener-bener butuh.

Baca Juga :  Serat Pada Buah dan Serat Pada Sayur, Manakah yang Lebih Dibutuhkan Bagi Kehidupan Kita?

Kesimpulannya? Jangan males makan sayur dan buah ya, karena serat alami itu nggak cuma bikin pencernaan lancar, tapi juga kasih tubuh kamu paket lengkap gizi yang bermanfaat buat jangka panjang.

Referensi:

  • Fatmala, L. N. 2021. Literature Review: Pengaruh Suplementasi Serat Terhadap Berat Badan Orang Dewasa Pada Status Gizi Lebih. Publikasi Ilmiah. Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta
  • Rahmah, A. D., Rezal, F., dan Rasma. 2017. Perilaku Konsumsi Serat Pada Mahasiswa Angkatan 2013 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo Tahun 2017. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat. 2(6): 1-10.
  • Rantika, N., dan Rusdiana, T. 2018. Artikel Tinjauan: Penggunaan Dan Pengembangan Dietary Fiber. Farmaka. 16(2): 152-165. 

Penulis : Sisilia Clarasinta Gultom | Program Studi: Teknologi Pangan | Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menguatkan Manajemen Risiko K3 di Proyek Gedung Bertingkat: Mencegah Bahaya Sebelum Menelan Korban
Bahaya Durasi Penggunaan Komputer di Tempat Kerja terhadap Kesehatan Mata
Di Balik Keindahan Pulau Bali: Problematika Akut Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Sektor Pariwisata
Ancaman di Balik Rutinitas Kerja: Mengungkap Risiko Carpal Tunnel Syndrome pada Pekerja Modern
Fenomena Influencer Saham di Media Sosial dan Urgensi Perlindungan Hukum bagi Investor Pemula
Pasal 412 UU No. 1 Tahun 2023 dan Tradisi Kawin Masyarakat Lampung (Sebambangan): Tinjauan Yuridis dan Maqāṣid al-Sharī‘ah
Dari Ladang ke Kosmos: Padungku sebagai Jembatan Sakral–Profan
Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:56 WIB

Menguatkan Manajemen Risiko K3 di Proyek Gedung Bertingkat: Mencegah Bahaya Sebelum Menelan Korban

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:42 WIB

Bahaya Durasi Penggunaan Komputer di Tempat Kerja terhadap Kesehatan Mata

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:47 WIB

Di Balik Keindahan Pulau Bali: Problematika Akut Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Sektor Pariwisata

Senin, 25 Mei 2026 - 23:00 WIB

Ancaman di Balik Rutinitas Kerja: Mengungkap Risiko Carpal Tunnel Syndrome pada Pekerja Modern

Selasa, 12 Mei 2026 - 08:44 WIB

Fenomena Influencer Saham di Media Sosial dan Urgensi Perlindungan Hukum bagi Investor Pemula

Berita Terbaru